Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

Demi Allah, seakan-akan aku melihat kalian nanti dalam keadaan berdebu, terbelenggu pada tali-tali!” Ucapan ini mereka sebarkan untuk menebar kegelisahan dan menakut-nakuti kaum mukmin. Maka Mukhsyî bin Hamyir berkata, “Demi Allah, aku benar-benar ingin – kalau boleh ditetapkan – agar setiap orang di antara kita dicambuk seratus kali; sebab kami khawatir sebentar lagi turun Al-Qur’an tentang perkataan kalian ini.”

Rasulullah ﷺ – sebagaimana sampai kepadaku – bersabda kepada ‘Ammâr bin Yâsir, “Susul mereka, karena mereka telah terbakar. Tanyakan apa yang telah mereka ucapkan; bila mereka mengingkari, katakanlah: ‘Benar, kalian telah mengatakan begini dan begitu.’”

‘Ammâr pun pergi menemui mereka dan menyampaikan pesan itu. Mereka lalu datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta maaf. Wadi‘ah bin Tsâbit – sementara Rasulullah ﷺ berdiri di atas untanya – terus berkata sambil memegangi tali pelana beliau, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercakap-cakap dan bergurau saja.”

Mukhsyî bin Hamyir menimpali, “Wahai Rasulullah, namaku dan nama ayahkulah yang menjerumuskanku.” Dialah – yakni Mukhsyî bin Hamyir – orang yang dimaksud dalam firman Allah Ta‘âlâ, “Jika Kami memaafkan segolongan dari kalian” (1) pada ayat ini. Namanya kemudian diganti menjadi ‘Abdurrahman; ia memohon kepada Allah agar gugur sebagai syahid dan tidak diketahui tempatnya. Ia pun terbunuh pada Perang Yamâmah dan tidak ditemukan jasadnya.

Syaikhul-Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “Allah mengabarkan bahwa mereka telah kafir sesudah beriman, padahal mereka berkata, ‘Kami hanya mengucapkan kata-kata kufur itu tanpa meyakininya; kami sekadar bersenda gurau dan bermain-main.’ Allah menegaskan bahwa memperolok ayat-ayat-Nya adalah kekufuran, dan hal itu tidak akan muncul kecuali dari orang yang dadanya telah lapang menerima ucapan tersebut. Seandainya iman benar-benar berada di hatinya, niscaya iman itu akan menahannya dari mengucapkan perkataan tersebut. Al-Qur’an menegaskan bahwa iman di hati meniscayakan amal lahiriah sesuai kadarnya, sebagaimana firman-Nya: ‘Dan mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Rasul, serta kami taat.” Kemudian segolongan dari mereka berpaling sesudah itu; mereka itulah bukan orang-orang beriman. Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba segolongan dari mereka berpaling. Tetapi jika kebenaran ada di pihak mereka, mereka datang kepadanya dengan tunduk. Apakah di dalam hati mereka ada penyakit, atau mereka ragu-ragu, ataukah mereka takut Allah dan Rasul-Nya berbuat zalim kepada mereka? Bahkan mereka itulah orang-orang zalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat,” dan mereka itulah orang-orang beruntung.’ (2) Allah menafikan iman dari orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rasul, dan Dia mengabarkan bahwa orang-orang beriman, apabila dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya untuk memutuskan perkara di antara mereka, mereka mendengar dan taat; maka Dia menjelaskan—

1. Surah At-Taubah, ayat 66. 2. Surah An-Nur, ayat 47–51.
والله لكأنا بكم غبرًا مقرنين في الحبال! إرجافا وترهيبا للمؤمنين؛ فقال مخشي ابن حمير: والله لوددت أني أقاضى على أن يضرب كل رجل منا مئة جلدة، وإنا نتلفت أن ينزل فينا قرآن لمقالتكم هذه. وقال رسول الله ﷺ فيما بلغني لعمار ابن ياسر: "أدرك القوم؛ فإنهم قد احترقوا؛ فسلهم عما قالوا، فإن أنكروا؛ فقل: بلى، قلتم كذا وكذا". فانطلق إليهم عمار، فقال لهم ذلك، فأتوا رسول الله ﷺ يعتذرون إليه، فقال وديعة بن ثابت ورسول الله ﷺ واقف على راحلته، فجعل يقول وهو آخذ بحقيها: يا رسول الله! إنما كنا نخوض ونلعب. فقال مخشي بن حمير: يا رسول الله! قعد بي اسمي واسم أبي. فكان الذي عناه - أي: بقوله تعالى: ﴿إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ﴾ ١ في هذه الآية - مخشي بن حمير؛ فسمي عبد الرحمن، وسأل الله أن يقتل شهيدًا لا يعلم بمكانه، فقتل يوم اليمامة، فلم يوجد له أثر". قال شيخ الإسلام ابن تيميه ﵀: "فقد أخبر أنهم كفروا بعد إيمانهم، مع قولهم: إنما تكلمنا بالكفر من غير اعتقاد له، بل إنما كنا نخوض ونلعب، وبيَّن أن الاستهزاء بآيات الله كفر، ولا يكون هذا إلا ممَّن شرح صدرًا بهذا الكلام، ولو كان الإيمان في قلبه؛ لمنعه أن يتكلم بهذا الكلام، والقرآن يبين أن إيمان القلب يستلزم العمل الظاهر بحسبه؛ كقوله تعالى: ﴿وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ ٢، نفى الإيمان عمن طاعة الرسول، وأخبر أن المؤمنين إذا دعوا إلى الله ورسوله ليحكم بينهم؛ سمعوا وأطاعوا؛ فبين
١ سورة التوبة، الآية: ٦٦. ٢ سورة النور، الآيات: ٤٧ ـ ٥١.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie