Demi Allah, seakan-akan aku melihat kalian nanti dalam keadaan berdebu, terbelenggu pada tali-tali!” Ucapan ini mereka sebarkan untuk menebar kegelisahan dan menakut-nakuti kaum mukmin. Maka Mukhsyî bin Hamyir berkata, “Demi Allah, aku benar-benar ingin – kalau boleh ditetapkan – agar setiap orang di antara kita dicambuk seratus kali; sebab kami khawatir sebentar lagi turun Al-Qur’an tentang perkataan kalian ini.”
Rasulullah ﷺ – sebagaimana sampai kepadaku – bersabda kepada ‘Ammâr bin Yâsir, “Susul mereka, karena mereka telah terbakar. Tanyakan apa yang telah mereka ucapkan; bila mereka mengingkari, katakanlah: ‘Benar, kalian telah mengatakan begini dan begitu.’”
‘Ammâr pun pergi menemui mereka dan menyampaikan pesan itu. Mereka lalu datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta maaf. Wadi‘ah bin Tsâbit – sementara Rasulullah ﷺ berdiri di atas untanya – terus berkata sambil memegangi tali pelana beliau, “Wahai Rasulullah, kami hanya bercakap-cakap dan bergurau saja.”
Mukhsyî bin Hamyir menimpali, “Wahai Rasulullah, namaku dan nama ayahkulah yang menjerumuskanku.” Dialah – yakni Mukhsyî bin Hamyir – orang yang dimaksud dalam firman Allah Ta‘âlâ, “Jika Kami memaafkan segolongan dari kalian” (1) pada ayat ini. Namanya kemudian diganti menjadi ‘Abdurrahman; ia memohon kepada Allah agar gugur sebagai syahid dan tidak diketahui tempatnya. Ia pun terbunuh pada Perang Yamâmah dan tidak ditemukan jasadnya.
Syaikhul-Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “Allah mengabarkan bahwa mereka telah kafir sesudah beriman, padahal mereka berkata, ‘Kami hanya mengucapkan kata-kata kufur itu tanpa meyakininya; kami sekadar bersenda gurau dan bermain-main.’ Allah menegaskan bahwa memperolok ayat-ayat-Nya adalah kekufuran, dan hal itu tidak akan muncul kecuali dari orang yang dadanya telah lapang menerima ucapan tersebut. Seandainya iman benar-benar berada di hatinya, niscaya iman itu akan menahannya dari mengucapkan perkataan tersebut. Al-Qur’an menegaskan bahwa iman di hati meniscayakan amal lahiriah sesuai kadarnya, sebagaimana firman-Nya: ‘Dan mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Rasul, serta kami taat.” Kemudian segolongan dari mereka berpaling sesudah itu; mereka itulah bukan orang-orang beriman. Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba segolongan dari mereka berpaling. Tetapi jika kebenaran ada di pihak mereka, mereka datang kepadanya dengan tunduk. Apakah di dalam hati mereka ada penyakit, atau mereka ragu-ragu, ataukah mereka takut Allah dan Rasul-Nya berbuat zalim kepada mereka? Bahkan mereka itulah orang-orang zalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat,” dan mereka itulah orang-orang beruntung.’ (2) Allah menafikan iman dari orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rasul, dan Dia mengabarkan bahwa orang-orang beriman, apabila dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya untuk memutuskan perkara di antara mereka, mereka mendengar dan taat; maka Dia menjelaskan—