seharusnya begini dan begitu; ada yang menuntut sedikit, ada pula yang menuntut banyak. Selidikilah dirimu sendiri—apakah engkau benar-benar selamat?
Bila engkau bisa luput dari dosa besar ini, sungguh baik; kalau tidak, aku hampir yakin engkau takkan selamat.
Ibnul-Qayyim berkata: “Barang siapa berprasangka bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya, tidak akan menyempurnakan urusannya, tidak akan menguatkan beliau dan pasukannya, tidak akan mengangkat mereka, tidak akan memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka dan menampakkan mereka; serta berprasangka bahwa Dia tidak akan menolong agama-Nya dan kitab-Nya, dan bahwa Dia akan membiarkan kesyirikan mengalahkan tauhid serta kebatilan menundukkan kebenaran dengan kemenangan yang mantap sehingga tauhid dan kebenaran lenyap selamanya—maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada Allah. Ia menisbatkan kepada-Nya sesuatu yang tidak pantas bagi keagungan, kesempurnaan, sifat-sifat dan nama-nama-Nya; sebab pujian-Nya, keperkasaan-Nya, hikmah-Nya dan ketuhanan-Nya menolak hal itu dan menolak bahwa para pendukung serta tentara-Nya akan terhina, atau bahwa kemenangan yang langgeng dan kejayaan yang abadi berada di pihak musuh-Nya yang mempersekutukan-Nya. Siapa pun yang berprasangka demikian, berarti ia tidak mengenal-Nya, tidak mengenal nama-nama-Nya, dan tidak mengenal sifat serta kesempurnaan-Nya.”
Demikian pula, orang yang mengingkari bahwa semua itu terjadi dengan ketetapan-Nya, ia tidak mengenal-Nya, tidak mengenal rububiyah-Nya, kerajaan-Nya, dan keagungan-Nya.
Begitu juga, orang yang mengingkari bahwa apa pun yang Dia tetapkan—baik hal tersebut maupun selainnya—terjadi karena hikmah yang dalam dan tujuan terpuji yang membuat-Nya layak dipuji; yang menyangka bahwa semua itu sekadar kehendak semata tanpa hikmah dan tujuan yang Dia cintai lebih daripada hilangnya tujuan itu; serta menyangka bahwa sebab-sebab yang tidak ia sukai namun mengantarkan kepada tujuan tersebut keluar dari hikmah—padahal sebab-sebab itu mengantarkan kepada apa yang Dia cintai meski ia membencinya—maka sungguh Dia tidak menetapkannya sia-sia, tidak menghendakinya dengan main-main, dan tidak menjadikannya tanpa makna. Itulah sangkaan orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir dari api neraka.¹
Kebanyakan manusia berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang tidak benar—prasangka buruk—baik terkait diri mereka sendiri maupun terkait apa yang Dia perbuat terhadap selain mereka; dan tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang mengenal Allah, mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta memahami konsekuensi hikmah dan pujian-Nya.
¹ QS. Ṣâd 38:27.