[1. Berprasangka buruk kepada Allah:
Berprasangka buruk kepada Allah adalah perkara yang sangat berbahaya; sebab berbaik sangka kepada Allah merupakan kewajiban tauhid, sedangkan berprasangka buruk kepada-Nya bertentangan dengan tauhid.
Allah menyifati orang-orang munafik sebagai orang yang berprasangka kepada-Nya dengan prasangka yang tidak benar; Dia berfirman: ﴿ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ﴾¹. Pada ayat lain Dia mengabarkan bahwa mereka berprasangka buruk kepada-Nya, seraya berfirman: ﴿وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾².
Imam Ibnul-Qayyim menjelaskan makna ayat pertama: “Prasangka ini ditafsirkan bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya dan bahwa urusannya akan lenyap; ditafsirkan pula bahwa apa yang menimpa mereka tidak terjadi dengan ketetapan dan hikmah Allah. Maka ia mencakup pengingkaran terhadap hikmah, pengingkaran terhadap takdir, serta pengingkaran bahwa Allah akan menyempurnakan urusan Rasul-Nya dan memenangkan beliau atas seluruh agama. Inilah prasangka buruk yang disangka kaum munafik dan musyrik dalam Surah al-Fath; ia disebut prasangka buruk karena tidak layak bagi-Nya, bagi hikmah-Nya, pujian-Nya, dan janji-Nya yang benar. Barang siapa berprasangka bahwa Allah akan menjadikan kebatilan menguasai kebenaran secara terus-menerus hingga kebenaran itu lenyap, atau mengingkari bahwa apa yang terjadi adalah qadha dan qadar-Nya, atau mengingkari bahwa qadar-Nya mengandung hikmah agung yang membuat-Nya patut dipuji, bahkan menganggap hal itu sekadar kehendak semata, maka itulah prasangka orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir dari api neraka. Kebanyakan manusia berprasangka buruk kepada Allah dalam urusan yang berkaitan dengan diri mereka maupun apa yang Dia perbuat terhadap selain mereka, dan tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang mengenal Allah, nama-nama dan sifat-Nya, serta konsekuensi hikmah dan pujian-Nya. Oleh karena itu hendaklah orang yang cerdas dan menasihati dirinya sendiri memperhatikan persoalan ini, bertobat kepada Allah, dan memohon ampun kepada-Nya atas prasangka buruk terhadap Rabb-nya.”
Dan seandainya engkau meneliti siapa pun yang engkau teliti, niscaya engkau akan mendapati pada dirinya sikap keberatan terhadap takdir, mencelanya, serta bahwa ia…]