[…maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka sendiri; dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah?” (1).
Dari ‘Abdullâh bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhumā, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sampai hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa.”
Ibn Rajab rahimahullah berkata, “Makna hadits ini adalah bahwa seseorang belum dikatakan beriman—yakni iman wajib yang sempurna—hingga rasa cinta dan bencinya mengikuti apa yang dibawa Rasul ﷺ berupa perintah, larangan, dan selainnya; ia mencintai apa yang diperintahkan dan membenci apa yang dilarang. Al-Qur’an memuat makna serupa di banyak tempat, dan Allah mengecam orang yang membenci apa yang dicintai-Nya atau mencintai apa yang dibenci-Nya; sebagaimana firman-Nya: ‘Yang demikian itu karena mereka mengikuti sesuatu yang menimbulkan murka Allah dan mereka membenci keridaan-Nya; maka Allah menghapus amal-amal mereka.’ (2)….”
Beliau melanjutkan, “Allah menyifati kaum musyrik sebagai pengikut hawa nafsu di beberapa tempat dalam Kitab-Nya; Dia berfirman: ‘Maka jika mereka tidak menuruti engkau, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka sendiri; dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah?’ (3).
Demikian pula bid‘ah muncul karena hawa nafsu didahulukan atas syariat—oleh karena itu pelakunya disebut pengikut hawa nafsu. Begitu juga maksiat; ia lahir karena hawa nafsu didahulukan atas syariat, sehingga pelakunya disebut pengikut hawa nafsu. Hakikatnya, maksiat terjadi tatkala hawa nafsu diutamakan di atas cinta kepada Allah dan kecintaan terhadap apa yang Dia cintai. Adapun kecintaan kepada individu pun harus mengikuti apa yang dibawa Rasul ﷺ; maka seorang mukmin wajib mencintai siapa saja yang dicintai Allah—para malaikat, para rasul, para nabi, para shiddîq, para syuhadâ, dan orang-orang saleh secara umum….]