[dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.” Maksudnya, tidaklah seseorang beriman dengan iman yang sempurna kecuali apabila Rasul lebih ia cintai daripada dirinya sendiri dan daripada orang yang paling dekat kepadanya.
Mencintai Rasul merupakan cabang dari cinta kepada Allah dan senantiasa melekat dengannya. Barang siapa mencintai Rasulullah ﷺ pasti mengikutinya. Maka siapa pun yang mengaku mencintainya, namun menyelisihi apa yang beliau bawa—taat kepada selain beliau dari kalangan orang-orang menyimpang, ahli bid‘ah, dan tukang khurafat—lalu menghidupkan bid‘ah dan meninggalkan sunah, ia pendusta dalam pengakuannya mencintai Rasul, karena orang yang mencinta pasti menaati yang dicintainya.
Orang-orang yang menimbulkan bid‘ah yang bertentangan dengan sunah Rasul, seperti merayakan maulid dan bid‘ah lain, atau yang lebih parah lagi berupa sikap berlebih-lebihan kepada Nabi—memanggil beliau selain Allah, meminta bantuan dan pertolongan kepadanya—seraya tetap mengaku mencintainya; ini termasuk kedustaan terbesar. Mereka seperti orang-orang yang difirmankan Allah: “Dan mereka berkata, ‘Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul dan kami taat.’ Lalu setelah itu sebagian dari mereka berpaling; mereka itu bukanlah orang-orang beriman.”(1) Sebab Rasul telah melarang perbuatan-perbuatan itu, namun mereka menyalahi larangannya dan bermaksiat kepadanya, sementara tetap mengklaim mencintainya; maka mereka dusta. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
- Syirik dalam tawakal:
Secara bahasa, tawakal berarti bersandar dan menyerahkan urusan; ia adalah amalan hati. Dikatakan, “Seseorang bertawakal dalam suatu perkara” apabila ia menanggung pelaksanaannya, dan dikatakan, “Aku menyerahkan urusanku kepada fulan” apabila aku bersandar kepadanya.
Tawakal kepada Allah termasuk jenis ibadah paling agung yang wajib diikhlaskan hanya kepada-Nya; Allah Taʿâlâ berfirman: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.”(2)
Adapun tawakal kepada selain Allah Taʿâlâ terbagi menjadi beberapa macam:]