Dan apa yang dikemukakan oleh Ibn Katsîr rahimahullah inilah pula yang dipilih oleh Syaikhul-Islâm Ibn Taimiyah rahimahullah; sebagaimana Allah menuturkan kesetaraan (yang dilakukan kaum musyrik) itu dalam firman-Nya: “Demi Allah, sungguh dahulu kami benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kalian dengan Rabb semesta alam,” serta firman-Nya: “Kemudian orang-orang yang kafir itu menyamakan (sesuatu) dengan Rabb mereka.”
Dan firman-Nya: “Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar,” maksudnya: cinta mereka kepada Allah lebih besar daripada cinta para pemilik tandingan kepada Allah, dan ada pula yang menafsirkan: lebih besar daripada cinta para pemilik tandingan kepada tandingan-tandingan mereka. Ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang mencintai sesuatu sebagaimana ia mencintai Allah, maka ia telah menjadikannya tandingan bagi Allah.
Syaikh Muḥammad bin ‘Abdul-Wahhâb rahimahullah berkata: “Kandungan ayat ini adalah bahwa siapa yang menjadikan tandingan sehingga cintanya kepadanya sama dengan cintanya kepada Allah, maka itulah syirik besar.”
Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa cinta kepada Allah—yaitu cinta penghambaan—harus didahulukan atas cinta yang bukan penghambaan, yakni cinta umum seperti cinta kepada orang tua, anak, pasangan, dan harta. Allah mengancam orang yang mendahulukan cinta tersebut atas cinta kepada-Nya. Allah Ta‘âlâ berfirman: “Katakanlah: Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kerabat kalian, harta kekayaan yang kalian peroleh, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum fasik.”
Allah ‘Azza wa Jalla mengancam orang yang mendahulukan delapan kecintaan ini atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta atas amal-amal yang dicintai-Nya. Ia tidak mengancam sekadar mencintai hal-hal itu, karena manusia memang tercipta dengan naluri tersebut dan itu bukan pilihan, tetapi ancaman ditujukan kepada orang yang menomorsatukan kecintaan itu di atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, harus diutamakan apa yang Allah cintai dan kehendaki bagi hamba-Nya daripada apa yang dicintai dan diinginkan hamba. Cinta kepada Allah mempunyai tanda-tanda, di antaranya:
– Bahwa siapa saja yang mencintai Allah Ta‘âlâ, ia akan mendahulukan apa yang Allah cintai berupa amal perbuatan atas