Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah cinta penghambaan yang meniscayakan kerendahan diri, ketundukan, kesempurnaan ketaatan, dan mendahulukan yang dicintai di atas selainnya. Cinta seperti ini murni untuk Allah; tidak boleh seorang pun disekutukan dengan-Nya dalam hal itu, karena cinta terbagi dua:
- Cinta khusus, yaitu cinta penghambaan yang menuntut kerendahan dan ketaatan total kepada yang dicintai; cinta ini khusus bagi Allah ‑Subḥânahu wa Ta‘âlâ-.
- Cinta bersama, yang terbagi menjadi tiga macam:
a. Cinta naluriah, seperti cinta orang yang lapar kepada makanan.
b. Cinta kasih sayang, seperti cinta orang tua kepada anaknya.
c. Cinta kedekatan dan keakraban, seperti cinta rekan kepada rekannya atau sahabat kepada sahabatnya.
Ketiga macam cinta ini tidak mengandung unsur pengagungan dan ketundukan; karenanya, tidak ada dosa pada siapa pun yang memilikinya dan ia tidak menyaingi cinta khusus, sehingga keberadaannya tidak tergolong syirik. Namun, cinta khusus tetap harus didahulukan atasnya.
Cinta khusus—yakni cinta penghambaan—itulah yang disebut Allah Ta‘ala dalam firman-Nya: “Dan di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar.”[1]
Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله berkomentar tentang ayat ini: “Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa siapa saja yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana ia mencintai Allah, maka ia termasuk orang yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah dalam hal cinta dan pengagungan.”
Ibnu Katsîr رحمه الله berkata: “Allah Ta‘ala menyebutkan keadaan kaum musyrik di dunia serta azab dan hukuman yang menanti mereka di akhirat, karena mereka menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan—yakni sekutu dan padanan—seraya mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah; artinya, mereka menyamakan tandingan-tandingan itu dengan Allah dalam cinta dan pengagungan.”