[Dan Allah Ta‘ālā berfirman: “Dan siapakah yang berputus asa dari rahmat Tuhannya selain orang-orang yang sesat?”[1]
Ismā‘īl bin Rāfi‘ berkata, “Termasuk merasa aman dari makar Allah adalah ketika seorang hamba terus-menerus berada dalam dosa sambil berangan-angan bahwa Allah pasti akan mengampuninya.”
Para ulama menuturkan: qunūṭ (putus asa) berarti menganggap pertolongan mustahil dan kehilangan harapan darinya; ia berlawanan dengan sikap merasa aman dari makar Allah, dan kedua-duanya adalah dosa besar.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh hanya bersandar pada rasa takut sehingga berputus asa dari rahmat Allah, dan tidak pula hanya bersandar pada harapan sehingga merasa aman dari azab Allah. Ia harus senantiasa berada di antara takut dan harap: ia takut terhadap dosa-dosanya, beramal menaati Allah, dan berharap akan rahmat-Nya. Allah Ta‘ālā berfirman tentang para nabi: “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan, mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”[2] Allah juga berfirman: “Orang-orang yang mereka seru itu sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka—siapa di antara mereka yang paling dekat—mereka berharap akan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu itu benar-benar harus diwaspadai.”[3]
Apabila rasa takut dan harap berpadu, keduanya mendorong seorang hamba untuk beramal dan menempuh sebab-sebab yang bermanfaat: dengan harap ia melaksanakan ketaatan demi mengharap pahala, dan dengan takut ia meninggalkan maksiat karena takut hukuman. Sebaliknya, bila ia putus asa dari rahmat Allah, ia berhenti dari amal saleh; dan bila ia merasa aman dari azab dan hukuman Allah, ia akan terjun ke dalam dosa.
Sebagian ulama berkata: Barang siapa menyembah Allah hanya dengan cinta, ia adalah seorang sufi; barang siapa menyembah-Nya hanya dengan takut, ia adalah seorang Khawarij; barang siapa menyembah-Nya hanya dengan harap, ia adalah seorang Murji’ah; sedangkan orang yang menyembah-Nya dengan cinta, takut, dan harap sekaligus, dialah seorang mukmin—sebagaimana Allah memuji para pilihan makhluk-Nya dengan firman-Nya: “Orang-orang yang mereka seru itu sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka—siapa di antara mereka yang paling dekat—mereka berharap akan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.”[4]
Allah juga menyifati orang-orang yang mengabaikan sisi takut, terjerumus dalam maksiat, dan merasa aman dari hukuman sebagai orang-orang yang merugi; Dia berfirman: “Maka apakah penduduk negeri merasa aman dari datangnya siksaan Kami…”]