sedangkan lafaz mauqûf berbunyi: “Barangsiapa mencari keridaan Allah dengan membuat manusia murka, Allah meridai dia dan menjadikan manusia pun meridai dia; dan barangsiapa mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, maka orang-orang yang tadinya memujinya dari kalangan manusia akan berbalik mencelanya.” Ini termasuk fikih yang paling agung dalam agama; sebab siapa yang meridai Allah meski manusia murka berarti ia telah bertakwa kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya yang saleh, sementara Allah melindungi hamba-hamba-Nya yang saleh. Allah mencukupi hamba-Nya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”[1] Allah pasti mencukupinya dari beban manusia, tanpa ragu. Adapun keinginan agar seluruh manusia ridha kepadanya, hal itu boleh jadi tidak tercapai; mereka baru akan ridha jika bebas dari kepentingan pribadi dan jika akibat akhirnya telah tampak. Siapa yang meridai manusia dengan membuat Allah murka, manusia tidak akan dapat menolongnya sedikit pun di hadapan Allah—ia seperti orang zalim yang menggigit kedua tangannya karena penyesalan. Dan kenyataan bahwa para pemujinya akan berbalik mencela—hal itu kerap terjadi dan akan tampak pada akhirnya, sebab kesudahan itu milik ketakwaan, bukan milik hawa nafsu mereka pada permulaan.” Selesai perkataan beliau ﵀.
Dari hadis ini dan seluruh riwayatnya jelas bahwa bila seseorang beramal demi mencari keridaan Allah meski membuat manusia marah, ia memperoleh dua manfaat besar: keridaan Allah Ta‘ala dan keridaan manusia. Sebaliknya, bila ia beramal demi keridaan manusia dengan membuat Allah murka, ia menuai dua mudarat: kemurkaan Allah dan kemurkaan manusia. Maka terbuktilah bahwa mencari keridaan Allah menghimpun seluruh kebaikan, sementara mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka menghimpun seluruh keburukan. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan.
Kita juga harus mengetahui bahwa rasa takut kepada Allah—Subḥānahu wa Ta‘ālā—harus selalu disertai harap dan cinta, agar tidak menjerumuskan pada keputusasaan terhadap rahmat-Nya. Seorang mukmin menempuh perjalanan menuju Allah di antara rasa takut dan harap: tidak larut dalam takut saja hingga berputus asa dari rahmat Allah, dan tidak larut dalam harap saja hingga merasa aman dari makar Allah. Sebab keputusasaan dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar-Nya bertentangan dengan tauhid. Allah Ta‘ālā berfirman: “Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain kaum yang merugi.”[2]
Allah Ta‘ālā juga berfirman: “Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum kafir.”[3]