Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

sedangkan lafaz mauqûf berbunyi: “Barangsiapa mencari keridaan Allah dengan membuat manusia murka, Allah meridai dia dan menjadikan manusia pun meridai dia; dan barangsiapa mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, maka orang-orang yang tadinya memujinya dari kalangan manusia akan berbalik mencelanya.” Ini termasuk fikih yang paling agung dalam agama; sebab siapa yang meridai Allah meski manusia murka berarti ia telah bertakwa kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya yang saleh, sementara Allah melindungi hamba-hamba-Nya yang saleh. Allah mencukupi hamba-Nya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”[1] Allah pasti mencukupinya dari beban manusia, tanpa ragu. Adapun keinginan agar seluruh manusia ridha kepadanya, hal itu boleh jadi tidak tercapai; mereka baru akan ridha jika bebas dari kepentingan pribadi dan jika akibat akhirnya telah tampak. Siapa yang meridai manusia dengan membuat Allah murka, manusia tidak akan dapat menolongnya sedikit pun di hadapan Allah—ia seperti orang zalim yang menggigit kedua tangannya karena penyesalan. Dan kenyataan bahwa para pemujinya akan berbalik mencela—hal itu kerap terjadi dan akan tampak pada akhirnya, sebab kesudahan itu milik ketakwaan, bukan milik hawa nafsu mereka pada permulaan.” Selesai perkataan beliau ﵀.

Dari hadis ini dan seluruh riwayatnya jelas bahwa bila seseorang beramal demi mencari keridaan Allah meski membuat manusia marah, ia memperoleh dua manfaat besar: keridaan Allah Ta‘ala dan keridaan manusia. Sebaliknya, bila ia beramal demi keridaan manusia dengan membuat Allah murka, ia menuai dua mudarat: kemurkaan Allah dan kemurkaan manusia. Maka terbuktilah bahwa mencari keridaan Allah menghimpun seluruh kebaikan, sementara mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka menghimpun seluruh keburukan. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan.

Kita juga harus mengetahui bahwa rasa takut kepada Allah—Subḥānahu wa Ta‘ālā—harus selalu disertai harap dan cinta, agar tidak menjerumuskan pada keputusasaan terhadap rahmat-Nya. Seorang mukmin menempuh perjalanan menuju Allah di antara rasa takut dan harap: tidak larut dalam takut saja hingga berputus asa dari rahmat Allah, dan tidak larut dalam harap saja hingga merasa aman dari makar Allah. Sebab keputusasaan dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar-Nya bertentangan dengan tauhid. Allah Ta‘ālā berfirman: “Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain kaum yang merugi.”[2]

Allah Ta‘ālā juga berfirman: “Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah selain kaum kafir.”[3]

1. Surat Ath-Thalaq, ayat 2. 2. Surat Al-A’raf, ayat 99. 3. Surat Yusuf, ayat 87.
الموقوف: "من أرضى الله بسخط الناس؛ ﵁ وأرضى عنه الناس، ومن أرضى الناس بسخط الله؛ عاد حامده من الناس له ذامّا"، وهذا من أعظم الفقه في الدين؛ فإن من أرضى الله بسخطهم؛ كان قد اتقاه، وكان عبده الصالح، والله يتولى الصالحين، والله كاف عبده، ﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ﴾ ١، والله يكفيه مؤونة الناس بلا ريب، وأما كون الناس كلهم يرضون عنه؛ فقد لا يحصل ذلك، ولكن يرضون عنه إذا سلموا من الأغراض، وإذا تبين لهم العاقبة. ومن أرضى الناس بسخط الله؛ لم يغنوا عنه من الله شيئا؛ كالظالم الذي يعض على يديه، وأما كون حامده ينقلب ذامّا؛ فهذا يقع كثيراً، ويحصل في العاقبة؛ فإن العاقبة للتقوى، ولا تحصل ابتداء عند أهوائهم" انتهى كلامه ﵀. ومن هذا الحديث برواياته يتبين أن الإنسان إذا كان يطلب بعمله إرضاء الله بماس يسخط الناس؛ حصل على مصلحتين عظيمتين: رضى الله تعالى ورضى الناس. ومن كان بالعكس يطلب بعمله إرضاء الناس بما يسخط الله ﷿، حصل له مضرتان: سخط الله وسخط الناس؛ فدل على أن إرضاء الله تعالى يجمع الخير كله، وأن إرضاء الناس بما يسخط الله يجمع الشر كله، نسأل الله العافية والسلامة. هذا ويجب أن نعلم أن الخوف من الله - سبحانه - يجب أن يكون مقرونا بالرجاء والمحبة؛ بحيث لا يكون باعثا على القنوط من رحمة الله ﷿، فالمؤمن يسير إلى الله بين الخوف والرجاء؛ بحيث لا يذهب مع الخوف فقط حتى يقنط من رحمة الله، ولا يذهب مع الرجاء فقط حتى يأمن من مكر الله؛ لأن القنوط من رحمة الله والأمن من مكر الله ينافيان التوحيد؛ قال تعالى: ﴿أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾ ٢. وقال تعالى: ﴿إِنَّهُ لا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلاّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾ ٣.
١ سورة الطلاق، الآية: ٢. ٢ سورة الأعراف، الآية: ٩٩. ٣ سورة يوسف، الآية: ٨٧

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie