Akhir, yakni orang-orang yang beriman dengan hati mereka, beramal dengan anggota badan mereka, dan mengikhlaskan rasa takut hanya kepada-Nya; maka Allah menetapkan bagi mereka hak memakmurkan masjid setelah sebelumnya menafikannya dari kaum musyrikin, karena pemakmuran masjid tidak terwujud kecuali melalui ketaatan dan amal saleh. Adapun orang musyrik, sekalipun ia beramal, amalnya itu bagaikan “fatamorgana di tanah datar; disangka oleh orang yang kehausan sebagai air, sehingga ketika ia mendatanginya ia tidak mendapati apa-apa”[1] atau “seperti abu yang diterpa angin kencang pada hari yang berangin”[2]; dan sesuatu yang seperti itu, ketiadaannya lebih baik daripada keberadaannya.
Dengan demikian, masjid tidak akan benar-benar makmur kecuali melalui amal saleh yang dibangun di atas keikhlasan, tauhid, dan akidah yang lurus, bebas dari syirik, bid‘ah, dan khurafat. Pemakmuran masjid bukanlah sekadar dengan bahan bangunan, hiasan, dan kemegahan arsitektur, atau mendirikannya di atas kuburan; sungguh Nabi ﷺ telah melaknat orang yang melakukan hal tersebut.
Tentang firman-Nya: “dan tidak takut kecuali kepada Allah,” Ibn ʿAṭiyyah berkata, “Yang dimaksud ialah rasa takut yang berisi pengagungan, ibadah, dan ketaatan. Adapun rasa takut terhadap bahaya duniawi, sudah pasti manusia mengalaminya.” Muʿâwiyah ﵁ pernah menulis surat kepada Ummul Muʾminîn ʿÂisyah ﵂, meminta agar beliau menuliskan sepucuk surat nasihat yang singkat. Maka ʿÂisyah ﵂ menulis: “Kepada Muʿâwiyah: salam sejahtera atasmu. Amma baʿd, sungguh aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa mencari keridaan Allah dengan membuat manusia murka, Allah akan mencukupinya dari beban manusia; dan barangsiapa mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, Allah menyerahkannya kepada manusia.’ Wassalâm.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abū Nuʿaym dalam al-Ḥilyah dan Ibn Ḥibbân dalam Ṣaḥîḥ-nya dengan lafaz: “Barangsiapa mencari keridaan Allah dengan membuat manusia murka, Allah meridai dia dan manusia pun meridai dia; dan barangsiapa mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia memurkainya.”
Syaikhul Islâm Ibn Taymiyyah ﵀ berkata: “ʿÂisyah menulis kepada Muʿâwiyah dan diriwayatkan pula bahwa ia menisbatkannya sebagai sabda Nabi: ‘Barangsiapa meridai Allah sementara manusia murka, Allah akan mencukupinya dari gangguan manusia; dan barangsiapa meridai manusia sementara Allah murka, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat apa pun di hadapan Allah.’ Inilah lafaz yang marfûʿ, sedangkan lafaz