lalu ia tidak mengucapkannya. Maka Allah—‘azza wa jalla—berkata kepadanya pada Hari Kiamat, “Apa yang menghalangimu untuk berbicara tentang ini dan itu?” Ia menjawab, “Takut kepada manusia.” Allah ﷿ berfirman, “Padahal Akulah yang lebih berhak engkau takuti.”
Jenis ketiga dari rasa takut adalah takut alami; yakni rasa takut kepada musuh, binatang buas, dan semacamnya. Rasa takut ini tidak tercela, sebagaimana firman Allah dalam kisah Musa عليه السلام: “Maka ia keluar dari kota itu dengan rasa takut, sambil waspada.”[1]
Adapun jenis pertama, yaitu takut tersembunyi, termasuk ibadah paling agung; karenanya wajib diikhlaskan hanya untuk Allah ﷿. Begitu pula jenis kedua; ia termasuk hak dan penyempurna ibadah.
Makna firman Allah: “Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti para pendukungnya,”[2] ialah: setan menakut-nakuti kalian melalui para pendukungnya. “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku,” adalah larangan Allah agar kaum mukminin tidak takut kepada selain-Nya dan perintah agar mereka membatasi rasa takut hanya kepada-Nya. Apabila mereka mengikhlaskan rasa takut—beserta seluruh macam ibadah—Dia akan memberi apa yang mereka inginkan dan melindungi mereka dari apa yang mereka khawatirkan. Allah Ta‘âlâ berfirman: “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan-sesembahan) selain-Nya.”[3]
Imam Ibn al-Qayyim berkata, “Di antara tipu daya musuh Allah ialah menakut-nakuti orang-orang beriman dengan bala tentaranya dan para pendukungnya, agar mereka tidak memerangi mereka, tidak menyuruh mereka berbuat makruf, dan tidak melarang mereka dari mungkar. Allah Ta‘âlâ telah menjelaskan bahwa hal itu termasuk tipu daya dan teror setan, dan Dia melarang kita takut kepada mereka. Semakin kuat iman seorang hamba, semakin hilang rasa takutnya kepada para pendukung setan; sebaliknya, semakin lemah imannya, semakin besar ketakutannya kepada mereka.”
Allah Ta‘âlâ juga berfirman: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah; mudah-mudahan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”[4]
Dengan demikian Allah Yang Mahasuci memberitakan bahwa masjid-masjid-Nya tidak akan dipelihara kecuali oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari