Pertama: takut tersembunyi, yaitu rasa takut kepada selain Allah—berhala, thâgût, orang mati, atau makhluk gaib, baik dari golongan jin maupun manusia—bahwa mereka akan menimpakan sesuatu yang tidak disukai.
Sebagaimana Allah mengisahkan tentang kaum Hûd, ketika mereka berkata kepadanya: “Kami tidak mengatakan selain bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan keburukan kepadamu.” Ia menjawab, “Aku persaksikan Allah, dan persaksikanlah pula bahwa aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan selain-Nya. Maka rencanakanlah makar kalian semuanya terhadapku dan jangan memberi tangguh.” Demikian pula orang-orang musyrik pernah menakut-nakuti Rasulullah Muhammad ﷺ dengan berhala-berhala mereka, sebagaimana firman-Nya: “Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan-sesembahan) selain-Nya.”[1]
Takut kepada selain Allah inilah yang hari ini terlihat pada para penyembah kubur dan berhala lainnya; mereka takut kepadanya dan menakut-nakuti ahli tauhid ketika ibadah itu disangkal dan mereka diperintah memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Jenis takut ini termasuk ibadah terpenting dan wajib diikhlaskan semata-mata kepada Allah; Allah berfirman: “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian beriman.”[2] Dan firman-Nya: “Maka janganlah kalian gentar kepada mereka, tetapi gentarlah kepada-Ku.”[3]
Rasa takut ini tergolong maqam agama yang paling agung; siapa yang memalingkannya kepada selain Allah berarti telah melakukan syirik besar—na‘ûdhu billâh.
Kedua: seseorang meninggalkan kewajiban karena takut kepada sebagian manusia. Hal ini terlarang dan termasuk syirik kecil. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah: “Orang-orang yang diberi tahu, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,’ tetapi hal itu justru menambah keimanan mereka dan mereka mengatakan, ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia Allah, tidak sedikit pun keburukan menimpa mereka; mereka mengikuti keridaan Allah, dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya itu hanyalah setan yang menakut-nakuti para pendukungnya; maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian beriman.”[4]
Inilah pula rasa takut yang disebut dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Mâjah dari Abû Sa‘îd al-Khudrî raḍiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan dirinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang meremehkan dirinya?” Beliau menjawab, “Ia melihat suatu perkara yang menjadi hak Allah atas dirinya …”