[Allah. Dan Nabi ﷺ tidak menganggap cukup sekadar melafalkan lā ilāha illāllāh; hal ini menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan lā ilāha illāllāh tetapi tidak meninggalkan penyembahan kepada orang-orang mati serta keterikatan kepada kuburan, maka harta dan darahnya tidaklah terjaga.
Ketiga: Di antara syubhat lain yang mereka kemukakan ialah klaim bahwa kemusyrikan tidak akan terjadi pada umat Muhammad, karena mereka mengucapkan lā ilāha illāllāh, Muḥammad rasūlullāh. Menurut mereka, apa yang mereka lakukan di kuburan berupa ibadah kepada orang-orang mati dan berdoa kepada mereka selain Allah tidaklah disebut syirik.
Jawaban atas syubhat ini: Nabi ﷺ telah memberitakan bahwa di dalam umat ini akan ada kemiripan dengan Yahudi dan Nasrani dalam apa yang mereka kerjakan, di antaranya menjadikan para ahli agama dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Beliau ﷺ juga mengabarkan bahwa Kiamat tidak akan terjadi sebelum suatu kabilah dari umatnya bergabung dengan kaum musyrik, dan sebelum sebagian umatnya menyembah berhala. Sungguh, pada umat ini telah muncul berbagai bentuk syirik, ideologi perusak, dan aliran sesat sehingga banyak orang keluar dari Islam sementara lisan mereka tetap mengucapkan lā ilāha illāllāh, Muḥammad rasūlullāh.
Keempat: Syubhat lain yang mereka pegang adalah persoalan syafaat. Mereka berkata, “Kami tidak bermaksud meminta para wali dan orang saleh untuk memenuhi hajat kami selain Allah, kami hanya ingin mereka memberi syafaat kepada kami di sisi Allah, karena mereka orang saleh dan mempunyai kedudukan di sisi-Nya; kami mengharap berkah kedudukan dan syafaat mereka.”
Jawabannya: Inilah persis ucapan kaum musyrik terdahulu dalam membenarkan perbuatan mereka, dan Allah telah mengkafirkan dan menamai mereka musyrik; sebagaimana firman-Nya, “Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, lalu mereka berkata, ‘Mereka inilah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’”¹
Syafaat memang hak, namun ia sepenuhnya milik Allah; sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, ‘Seluruh syafaat itu hanya milik Allah.’”² Karena itu, syafaat dimohonkan kepada Allah, bukan kepada orang-orang mati; sebab Allah tidak mengizinkan…]