Apa yang disampaikan oleh para musyrik umat ini.
Di antara kerancuan-kerancuan tersebut:
Pertama: kerancuan yang hampir menjadi kesamaan di antara seluruh kelompok kaum musyrik pada berbagai umat, yaitu kerancuan berhujah dengan apa yang dianut oleh para bapak dan leluhur, seakan-akan mereka mewarisi akidah itu turun-temurun.
Allah Ta‘ala berfirman tentang mereka, “Demikianlah, tiada seorang pemberi peringatan pun Kami utus sebelum engkau ke suatu negeri melainkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berada di atas suatu agama, dan kami hanyalah mengikuti jejak mereka.’” (QS. az-Zukhruf: 23)¹.
Hujah ini dijadikan tempat berlindung oleh orang yang tak sanggup mendatangkan dalil atas klaimnya; padahal ia adalah hujah yang rapuh dan tak punya bobot dalam arena dialog. Sebab, para leluhur yang mereka ikuti itu tidak berada di atas petunjuk; orang semacam itu tidak boleh diikuti dan dijadikan teladan. Allah Ta‘ala menanggapi mereka, “(Utusan itu) berkata, ‘Apakah (kalian tetap akan mengikuti mereka) sekalipun aku membawa kepada kalian petunjuk yang lebih benar daripada apa yang kalian dapati pada leluhur kalian?’” (QS. az-Zukhruf: 24); “Apakah (kalian akan tetap mengikuti mereka) sekalipun leluhur kalian tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. al-Mâ’idah: 104); dan, “Apakah (kalian akan tetap mengikuti mereka) sekalipun leluhur kalian tidak menggunakan akal sedikit pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. al-Baqarah: 170).² ³ ⁴
Meneladani leluhur hanya terpuji bila mereka berada di atas kebenaran; sebagaimana Yusuf ﵇ berkata, “Aku telah mengikuti agama leluhurku, Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub; kami tidak pantas mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.” (QS. Yûsuf: 38), dan firman-Nya, “Dan orang-orang yang beriman, lalu keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan keturunan mereka.” (QS. at-Tûr: 21).⁵ ⁶
Kerancuan berhujah dengan ajaran leluhur yang sesat ini begitu mengakar dalam jiwa kaum musyrik; dengan itulah mereka menghadang seruan para nabi ‘alaihimus-salâm. Ketika Nuh berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia. Tidakkah kalian bertakwa?” para pembesar yang kafir dari kaumnya berkata, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kalian; ia ingin menonjolkan diri di hadapan kalian. Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia menurunkan malaikat. Kami belum pernah mendengar seruan seperti ini pada nenek moyang kami yang dahulu.” (QS. al-Mu’minûn: 23-24).⁷
¹ QS. az-Zukhruf: 23
² QS. az-Zukhruf: 24
³ QS. al-Mâ’idah: 104
⁴ QS. al-Baqarah: 170
⁵ QS. Yûsuf: 38
⁶ QS. at-Tûr: 21
⁷ QS. al-Mu’minûn: 23-24