gambar yang meniru ciptaan Allah berupa makhluk bernyawa; maka bagaimana halnya dengan orang yang menyetarakan makhluk dengan Rabb seluruh alam dan mempersembahkan kepadanya sebagian ibadah?!
- Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumâ dari Ibnu ‘Abbas ﵄, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap pembuat gambar, untuk tiap gambar yang ia buat akan dijadikan satu ruh yang dengannya ia disiksa di Jahannam.”
Maknanya: pada Hari Kiamat gambar-gambar yang pernah ia buat di dunia akan dihadirkan, lalu pada masing-masing gambar itu ditiupkan ruh yang dengannya ia disiksa di Jahannam; sedikit atau banyaknya gambar itu sebanding dengan kadar azabnya, sehingga dari setiap gambar dijadikan satu sosok yang akan menyiksanya di Jahannam.
- Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas ﵄: “Barang siapa membuat suatu gambar, ia akan dibebani untuk meniupkan ruh ke dalamnya, padahal ia tidak akan mampu meniupkannya.”
Ini adalah bentuk azab lain bagi si pembuat gambar. Maknanya jelas: seluruh gambar yang pernah ia buat di dunia dihadirkan di hadapannya, lalu ia diperintahkan untuk meniupkan ruh ke setiap gambar tersebut. Bagaimana mungkin ia sanggup, sedangkan ruh adalah urusan Tuhanku? Perintah itu hanyalah siksaan sekaligus penegasan atas ketidakmampuannya, karena ia dibebani sesuatu yang mustahil ia kerjakan; maka ia pun disiksa karenanya. Hadis ini menunjukkan lamanya azab yang akan ia alami dan betapa tampak lemahnya ia dalam menandingi ciptaan Allah sebagaimana dahulu ia coba lakukan di dunia.
- Diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah dari Abul Hayyâj, ia berkata: Ali ﵁ berkata kepadaku, “Maukah engkau aku utus sebagaimana Rasulullah ﷺ mengutusku: jangan engkau biarkan satu gambar pun kecuali engkau hapus, dan jangan (biarkan) suatu kubur yang menonjol kecuali engkau ratakan.”
Hadis ini memerintahkan untuk menghapus gambar—yakni merubahnya dari bentuk aslinya hingga tidak lagi menyerupai ciptaan Allah—dan untuk merobohkan bangunan yang didirikan di atas kubur berupa kubah, masjid, dan berbagai simbol kesyirikan lainnya. Dengan demikian, hadis ini menegaskan kewajiban melenyapkan dua sarana terbesar yang mengantarkan kepada syirik dan menjadi jalan menuju kepadanya, yaitu: