Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

di majelis-majelis.
Nabi ﷺ telah memperingatkan tentang pembuatan gambar dalam semua bentuknya, melarangnya, mengancam para pelakunya dengan ancaman yang paling keras, dan memerintahkan untuk menghapus atau mengubahnya. Sebab, menggambar berarti menandingi ciptaan Allah ﷿ yang Mahatunggal dalam penciptaan; si pembuat gambar berusaha menyaingi Allah ﷿ dalam hal yang hanya dimiliki-Nya. Selain itu, gambar adalah salah satu sarana syirik; syirik pertama kali muncul di bumi karena gambar, ketika setan membujuk kaum Nuh untuk menggambar orang-orang saleh dan menegakkan gambar-gambar mereka di majelis-majelis guna mengingat keadaan mereka dan meneladani mereka dalam ibadah, hingga akhirnya gambar-gambar itu disembah dan diyakini dapat memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah.
Karena itu, pembuatan gambar adalah cikal bakal penyembahan berhala. Menggambar makhluk pada dasarnya adalah memuliakannya dan—dalam kebanyakan kasus—bergantung kepadanya, terutama jika yang digambar memiliki kedudukan, ilmu, atau kesalehan, dan lebih-lebih lagi bila gambar itu diagungkan dengan dipajang di dinding, ditegakkan di jalan atau lapangan. Perbuatan ini membuat orang-orang jahil dan tersesat tertarik kepadanya, meskipun setelah waktu yang lama. Di samping itu, ia juga membuka pintu bagi pendirian patung dan berhala yang disembah selain Allah.
Aku akan mengemukakan hadis-hadis sahih dan tegas tentang masalah ini, disertai komentar seperlunya.

  1. Dari Abu Hurairah ﵁, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah Ta‘ala berfirman, ‘Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang hendak mencipta seperti ciptaan-Ku?! Maka ciptakanlah oleh mereka seekor semut, atau ciptakanlah sebutir biji, atau ciptakanlah sebutir gandum.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Maknanya: tidak ada yang lebih zalim daripada pembuat gambar; karena ketika ia membuat gambar menyerupai apa yang Allah ciptakan—baik manusia, hewan ternak, maupun makhluk bernyawa lainnya—ia telah menandingi ciptaan Allah, yang merupakan Pencipta segala sesuatu, Pemilik dan Pengatur semuanya, dan Dialah yang membentuk seluruh
على المجالس. وقد حذر النبي ﷺ من التصوير بجميع أنواعه، ونهى عنه، وتوعد من فعله بأشد الوعيد، وأمر بطمس الصور وتغيرها؛ لأن التصوير فيه مضاهاة لخلق الله ﷿، الذي انفرد بالخلق؛ فهذا الإنسان المصور يحاول أن يضاهي الله ﷿ فيما انفرد به من الخلق، ولأن التصوير وسيلة من وسائل الشرك؛ فأول حدوث الشرك في الأرض كان بسبب التصوير؛ لما زين الشيطان لقوم نوح تصوير الصالحين، ونصب صورهم على المجالس؛ لأجل تذكر أحوالهم، والاقتداء بهم في العبادة، حتى آل الأمر إلى عبادة تلك الصور، واعتقاد أنها تنفع وتضر من دون الله. فالتصوير هو منشأ الوثنية؛ لأن تصوير المخلوق تعظيم له، وتعلق به في الغالب، خصوصا إذا كان المصور له شأن من سلطة أو علم أو صلاح، وخصوصا إذا عظمت الصورة بنصبها على حائط أو إقامتها في شارع أو ميدان؛ فإن ذلك يؤدي إلى التعلق بها من الجهال وأهل الضلال، ولو بعد حين، ثم هذا - أيضا - فيه فتح باب لنصب الأصنام والتماثيل التي تعبد من دون الله. وسأورد الأحاديث الصحيحة والصريحة في هذا الموضوع مع التعليق عليها بما تيسر. ١- عن أبي هريرة ﵁، قال: قال رسول الله ﷺ: "قال الله تعالى: ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي؟! فليخلقوا ذرة، أو ليخلقوا حبة، أو ليخلقوا شعيرة"، أخرجه البخاري ومسلم. ومعناه: لا أحد أشد ظلما من المصور؛ لأنه لما صور الصورة على شكل ما خلقه الله من إنسان أو بهيمة أو غيرهما من ذوات الأرواح؛ صار مضاهيا لخلق الله، الذي هو خالق كل شيء، وهو رب كل شيء، وهو الذي صور جميع

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie