[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap orang yang bersikap berlebih-lebihan terhadap seorang nabi atau seorang hamba saleh, lalu menetapkan padanya suatu bentuk ketuhanan—seperti ucapannya: ‘Wahai tuanku Fulan, tolonglah aku,’ atau ‘Selamatkanlah aku,’ atau ‘Berilah aku rezeki,’ atau ‘Aku berada dalam perlindunganmu’ … dan ucapan-ucapan semisalnya—maka semua itu adalah syirik dan kesesatan. Pelakunya diperintahkan bertaubat; jika ia bertaubat, (selesai), tetapi jika tidak, ia dihukum mati. Sesungguhnya Allah—Mahasuci dan Mahatinggi—hanya mengutus rasul-rasul dan menurunkan kitab-kitab agar Dia semata yang disembah tanpa sekutu, dan agar tidak ada sesembahan lain yang diseru bersama-Nya.
Orang-orang yang berdoa kepada selain Allah—seperti Al-Masih, para malaikat, maupun berhala—tidaklah meyakini bahwa mereka menciptakan makhluk, menurunkan hujan, atau menumbuhkan tanaman. Mereka sekadar menyembahnya, atau menyembah kuburnya, atau menyembah gambar-gambarnya sambil berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya’ (Q.S. Az-Zumar: 3), dan berkata: ‘Mereka inilah para pemberi syafaat kami di sisi Allah’ (Q.S. Yunus: 18). Maka Allah—Mahasuci Dia—mengutus para rasul-Nya untuk melarang agar seorang pun diseru selain Dia; baik seruan ibadah maupun seruan meminta pertolongan …” Selesai perkataan Syaikh.
Dengan keterangan ini tersingkaplah syubhat para penyembah kubur, yang membenarkan perbuatan mereka dengan dalih bahwa mereka tidak meyakini para wali ikut andil dalam penciptaan, pemberian rezeki, menghidupkan, atau mematikan; mereka hanya menganggap para wali sebagai perantara antara mereka dan Allah dalam memenuhi hajat dan menghilangkan kesusahan. Inilah syubhat yang sama persis dikemukakan kaum musyrik Jahiliah, sebagaimana Allah sebutkan dan bantah dalam Kitab-Nya.
Kenyataannya, syirik orang-orang belakangan ini lebih parah daripada syirik kaum Jahiliah; mereka meneriakkan nama-nama orang mati itu pada setiap kesempatan dan hampir tidak menyebut nama Allah, sebab yang senantiasa mengalir di lisan mereka hanyalah nama sang wali. Orang-orang terdahulu berbuat syirik ketika lapang dan ikhlas ketika susah, sedangkan mereka berbuat syirik terus-menerus, baik dalam kelapangan maupun kesempitan; sebagaimana dikatakan Imam Muhammad bin Isma‘il ash-Shan‘ani:
“Betapa sering, saat ditimpa kesulitan, mereka berseru menyebut namanya,
laksana orang yang terdesak menyeru Sang Esa dan Tunggal.”
Maka wahai para ulama kaum Muslimin! Kalianlah yang bertanggung jawab atas kawanan umat yang tersesat dan kebingungan ini.]