[… serta orang mulia, orang terkemuka, orang dermawan, orang penyantun, orang yang menanggung gangguan kaumnya, suami, pemimpin, dan tokoh yang didahulukan; dan sabdanya: “Hadis mulia ini: (As-sayyid adalah Allah),” maksudnya bahwa kemuliaan hakiki hanyalah milik Allah ﷿, sedangkan seluruh makhluk adalah hamba-Nya. Bila kata as-sayyid disandarkan kepada Allah –Ta‘ala– maknanya adalah Pemilik, Pelindung, dan Rabb. Ibn ‘Abbās berkata tentang firman Allah ﴿اللَّهُ الصَّمَدُ﴾: yakni tuan yang sempurna dalam segala macam kemuliaan.
Ibn al-Atsīr رحمه الله berkata: “Disebutkan bahwa datang seorang lelaki Quraisy lalu berkata, ‘Engkau adalah tuan Quraisy.’ Beliau menjawab, ‘As-sayyid adalah Allah,’ artinya hanya Dia yang pantas menyandang kemuliaan. Seakan-akan beliau tidak suka dipuji di hadapan wajahnya dan beliau menyukai kerendahan hati. Adapun sabda beliau, ‘Aku adalah tuan anak-anak Ādam dan bukan untuk berbangga,’ beliau ucapkan sebagai pemberitahuan tentang keutamaan dan kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya, sebagai wujud syukur atas nikmat-Nya, dan sebagai penjelasan bagi umatnya agar keimanan mereka kepadanya sesuai kedudukan itu dan konsekuensinya. Karena itu beliau menambahkan, ‘dan bukan untuk berbangga,’ maksudnya keutamaan ini kudapat semata-mata sebagai karunia Allah, bukan karena diriku sendiri, bukan pula karena kekuatanku; maka aku tidak berhak menyombongkannya …” selesai.
Beliau ﷺ memang tuan anak-anak Ādam sebagaimana beliau kabarkan, tetapi ketika orang-orang itu menyapanya dengan lafaz tersebut, beliau melarangnya karena khawatir mereka berlebihan hingga terjerumus ke dalam kesyirikan.
Hal ini diperjelas oleh riwayat dari Anas bin Mālik رضي الله عنه, bahwa sekelompok orang berkata, “Wahai sebaik-baik kami dan putra sebaik-baik kami! Wahai tuan kami dan putra tuan kami!” Maka beliau bersabda, “Wahai manusia! Ucapkanlah perkataan kalian sendiri, dan jangan setan menyesatkan kalian. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan rasul-Nya; aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukan yang Allah ﷿ berikan kepadaku.” Diriwayatkan oleh an-Nasā’ī dengan sanad yang baik.
Hadis ini menjelaskan bahwa beliau melarang mereka mengucapkan, “Wahai tuan kami!” karena khawatir mereka berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau; beliau menutup jalan itu dari awal dan mengarahkan mereka agar menyifatinya dengan dua sifat puncak penghambaan, sebagaimana Allah menisbahkannya dalam beberapa ayat kitab-Nya, yaitu “hamba Allah dan rasul-Nya”. Beliau tidak menyukai mereka mengangkatnya melebihi kedudukan yang Allah ﷿ tetapkan baginya; sebagai perlindungan]