Begitulah keadaan penduduk bumi ketika Nabi ﷺ diutus: kebodohan yang pekat dan kesesatan yang buta; maka Allah melalui beliau menyelamatkan—dari kegelapan menuju cahaya—orang-orang yang menerima seruannya dan menaatinya, mengembalikan agama hanif nan mudah, Millah Ibrahim عليه السلام, merobohkan berhala-berhala, melarang syirik, serta menutup seluruh jalan yang mengantarkan kepadanya.
Berikut penjelasan sarana, baik ucapan maupun perbuatan, yang dilarang Rasulullah ﷺ karena menjerumuskan kepada syirik:
1- Rasulullah ﷺ melarang mengucapkan kata-kata yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, seperti: “Masya Allah wa syi’ta (masya Allah dan kehendakmu)” atau “Lawla Allah wa anta (kalau bukan karena Allah dan engkau)”. Beliau memerintahkan agar diganti dengan: “Masya Allah tsumma syi’ta”, karena huruf waw menunjukkan kesetaraan sedangkan tsumma menunjukkan urutan. Penyamaan secara lafaz ini tergolong syirik kecil dan merupakan jalan menuju syirik besar.
2- Beliau ﷺ melarang berlebih-lebihan dalam mengagungkan kubur dengan mendirikan bangunan di atasnya, memasang lampu, melapisinya (tahshîsh) dan menulisi permukaannya.
3- Beliau melarang menjadikan kubur sebagai masjid—yaitu shalat di sisinya—karena hal itu merupakan sarana untuk menyembahnya.
4- Beliau melarang shalat pada saat matahari terbit dan saat terbenam, karena hal itu menyerupai orang-orang yang bersujud kepada matahari pada waktu-waktu tersebut.
5- Beliau melarang melakukan perjalanan khusus ke suatu tempat apa pun dengan maksud beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah di sana, kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsha.
6- Beliau ﷺ melarang berlebih-lebihan dalam memuji beliau; beliau bersabda: “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba; maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.” Adapun iṭrā’ adalah sikap berlebih-lebihan dalam