sisinya; maka barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah menyerupakan makhluk dengan Sang Pencipta, dan seburuk-buruk penyerupaan adalah menyamakan yang lemah lagi fakir secara hakiki dengan Zat Yang Mahakuasa lagi Mahakaya, yang sama sekali tidak membutuhkan makhluk mana pun.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya dari syirik dan menutup setiap jalan yang mengantarkan kepadanya; sebab Allah mengutus Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, ketika keadaan bangsa Arab—bahkan seluruh penduduk bumi kecuali segelintir Ahli Kitab—berada pada kondisi yang paling buruk; sebagaimana firman-Nya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah; padahal sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Âli ‘Imrân: 164).
Pada masa itu manusia hidup dalam kebingungan: ada yang menjadikan sesembahan mereka dari batu-batu yang dipahat dan berhala-berhala yang ditegakkan; mereka berdiam di sisinya, thawaf mengelilinginya, dan mempersembahkan kurban kepadanya berupa harta terbaik mereka, bahkan anak-anak mereka sendiri; sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Demikianlah sekutu-sekutu mereka menjadikan indah bagi banyak orang musyrik perbuatan membunuh anak-anak mereka, untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan agama mereka bagi mereka.” (QS. al-An‘âm: 137).
Kelompok lain—yakni Ahli Kitab—ada Nasrani yang kebingungan, tersesat dari jalan yang lurus: mereka menjadikan ilah itu tiga dan mengangkat para rahib serta pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah; dan ada pula Yahudi yang merusak, menebarkan kerusakan di bumi, menyalakan bara fitnah, mengingkari perjanjian dan ikatan Allah, serta memutarbalikkan nash kitab mereka hingga menyimpangkannya dari tempatnya.
Kelompok ketiga ialah kaum Majusi yang menyembah api dan menetapkan dua ilah—menurut sangkaan mereka—satu pencipta kebaikan dan yang lain pencipta keburukan.
Kelompok keempat adalah kaum Sabi’in yang menyembah bintang-bintang dan planet-planet serta meyakini pengaruhnya di bumi.
Kelompok kelima adalah kaum Dahriyah yang tidak menganut agama apa pun, dan tidak meyakini adanya kebangkitan maupun perhitungan.