[Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setan telah mempermainkan orang-orang musyrik dalam penyembahan berhala, menyesuaikan tipu dayanya bagi setiap kaum sesuai kadar akal mereka. Ada sekelompok orang yang ia ajak menyembah berhala karena mengagungkan orang-orang mati yang diabadikan rupanya, sebagaimana terjadi pada kaum Nuh; sebab inilah yang paling banyak menimpa kalangan awam kaum musyrik. Adapun kalangan khusus mereka, mereka membuat berhala berbentuk benda-benda langit yang—menurut sangkaan mereka—berpengaruh terhadap alam, lalu mereka bangunkan untuknya rumah-rumah ibadah, para penjaga, tirai penutup dan persembahan. Keyakinan ini terus ada di dunia, dahulu maupun kini. Akar mazhab ini berasal dari kaum musyrik Sabi’in, yaitu kaum Ibrahim ‘alaihissalam—merekalah yang beliau bantah kebatilan syiriknya, beliau patahkan hujah mereka dengan ilmunya, dan beliau hancurkan sembahan-sembahan mereka dengan tangannya, sehingga mereka pun berusaha membelokkannya.
Kelompok lain menjadikan bulan sebagai berhala, mengklaim bahwa bulan berhak disembah dan kepadanya diserahkan pengaturan alam bawah ini. Ada pula yang menyembah api—mereka adalah kaum Majusi—, yang menyembah air, yang menyembah hewan: sebagian menyembah kuda, sebagian menyembah sapi; ada yang menyembah manusia—baik yang masih hidup maupun yang sudah mati—, ada yang menyembah jin, yang menyembah pepohonan, dan yang menyembah malaikat.” Selesai perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.
Dengan ini engkau memahami makna firman Allah Ta‘ala, “Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit, lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”; firman-Nya lagi, “Yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya; Allah tidak menurunkan satu pun bukti untuk itu. Hukum itu hanyalah milik Allah; Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”; dan firman-Nya, “Allah membuat perumpamaan: seorang lelaki yang dimiliki oleh beberapa tuan yang saling berselisih dan seorang lelaki yang tunduk sepenuhnya kepada satu tuan; apakah keduanya sama?”.
Ketika orang-orang musyrik meninggalkan ibadah kepada Allah semata tanpa sekutu—padahal itulah tujuan mereka diciptakan dan di situlah kebahagiaan mereka—, mereka pun diuji dengan penyembahan kepada setan, dan hawa nafsu serta syahwat mencerai-beraikan mereka; sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:]