manfaat sedikit pun bagi para penyembahnya dari segala sisi, dan sesuatu yang demikian sama sekali tidak pantas untuk disembah; sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kalian sangka (dapat menjadi sembahan) selain Allah; mereka tidak memiliki kekuasaan sebesar zarrah pun di langit maupun di bumi, mereka tidak mempunyai andil sedikit pun dalam keduanya, dan Allah tidak mempunyai penolong dari kalangan mereka.’” (1).
- Di antaranya pula: bahwa Dia—Mahasuci Dia—memaparkan banyak sekali perumpamaan di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kebatilan syirik. Di antaranya firman-Nya: “Dan barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (2).
Dia—Mahasuci Dia—mengumpamakan tauhid, karena ketinggian, kelapangan, dan kemuliaannya, dengan langit; sedangkan orang yang meninggalkan tauhid diumpamakan seperti orang yang terjatuh dari langit ke tempat paling rendah, sebab ia terhempas dari puncak keimanan ke jurang kekufuran. Ia menamsilkan setan-setan yang mengusiknya dengan burung yang mencabik-cabik anggota tubuhnya, dan menamsilkan hawa nafsu yang menjauhkannya dari kebenaran dengan angin yang melemparkannya ke tempat yang sangat jauh.
Ini satu contoh saja dari sekian banyak perumpamaan dalam Al-Qur’an yang Allah—Mahasuci Dia—sebutkan untuk menerangkan kebatilan syirik dan kerugian pelaku syirik di dunia dan akhirat.
Apa yang kami paparkan dalam kajian ini tentang metode Al-Qur’an dalam menyeru kepada tauhid uluhiyah dan membatalkan syirik hanyalah sedikit dari yang begitu banyak. Seorang muslim hanya perlu membaca Al-Qur’an dengan penuh perenungan, agar ia menemukan kebaikan yang melimpah, dalil-dalil yang meyakinkan, dan bukti-bukti yang terang-benderang, yang meneguhkan akidah tauhid di dalam hati seorang mukmin dan mencabut darinya setiap syubhat