[dan tempat-tempat lainnya. Maka, bila tempat yang pernah diinjak oleh kedua telapak kaki beliau yang mulia dan beliau gunakan untuk shalat saja tidak disyariatkan bagi umatnya untuk diusap atau dicium, bagaimana lagi dengan tempat yang hanya dikatakan bahwa selain beliau pernah shalat atau tidur di situ! Mencium atau mengusap apa pun dari hal-hal tersebut—para ulama telah mengetahui secara pasti, sebagai keniscayaan dalam agama Islam—bukanlah bagian dari syariat beliau ﷺ.¹
Bid‘ah dalam bidang ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah
Bid‘ah-bid‘ah yang diada-adakan dalam ranah ibadah pada masa kini sangatlah banyak; sebab asas ibadah adalah tauqif: tidak ada satu pun yang diakui kecuali berdasarkan dalil, dan apa yang tidak memiliki dalil adalah bid‘ah; berdasarkan sabda beliau ﷺ: “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan itu tertolak.”
Ibadah-ibadah yang kini dipraktikkan tanpa dalil sangat banyak sekali, di antaranya:
• Mengeraskan niat untuk shalat dengan mengucapkan, “Aku berniat shalat karena Allah begini dan begitu.” Ini adalah bid‘ah, karena tidak termasuk sunnah Nabi ﷺ, dan karena Allah Taʿālā berfirman, “Katakanlah, ‘Apakah kalian hendak mengajari Allah tentang agama kalian? Padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’” Niat itu tempatnya di hati; ia adalah amalan hati, bukan amalan lisan.
• Zikir bersama-sama secara serempak setelah shalat; sebab yang disyariatkan ialah setiap orang membaca zikir yang diajarkan secara mandiri.
• Meminta pembacaan al-Fātiḥah pada berbagai kesempatan, seusai doa, dan untuk orang-orang yang telah meninggal.
• Mengadakan jamuan belasungkawa (tahlilan), membuat hidangan, serta menyewa pembaca al-Qur’an; mereka mengira hal itu sebagai bentuk takziyah atau bermanfaat bagi mayit, padahal semua itu adalah bid‘ah yang tidak memiliki dasar, beban dan belenggu yang tidak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya.
• Merayakan hari-hari besar keagamaan, seperti peringatan Isra’ dan Mi‘raj,]