[…bersabda, “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.” Ayat-ayat Allah pun terus turun kepadanya berisi seruan kepada tauhid ini, bantahan atas syubhat kaum musyrik, serta penegakan bukti-bukti atas batilnya apa yang mereka anut.
Metode al-Qur’an dalam menyeru kepada tauhid ulûhiyyah pun beraneka ragam; berikut ini beberapa di antaranya:
-
Perintah-Nya—Mahasuci Dia—untuk beribadah hanya kepada-Nya dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun,” (1) serta firman-Nya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu …” hingga firman-Nya: “Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui,” (2).
-
Penegasan-Nya—Mahasuci Dia—bahwa Dia menciptakan seluruh makhluk untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” (3).
-
Pemberitahuan-Nya bahwa Dia mengutus seluruh rasul guna menyeru manusia agar beribadah kepada-Nya dan menjauhi penyembahan kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang berseru), ‘Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah sesembahan-sesembahan palsu,’” (4).
-
Berhujah atas tauhid ulûhiyyah melalui keesaan-Nya dalam rubûbiyyah—penciptaan dan pengelolaan—sebagaimana firman-Nya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu …” (5); firman-Nya: “Janganlah kamu sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan keduanya,” (6); dan firman-Nya: “Apakah (Dia) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan?” (7).
-
Berhujah atas wajibnya beribadah kepada-Nya—Mahasuci Dia—karena hanya Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, sedangkan hal itu sama sekali tidak dimiliki oleh sesembahan kaum musyrik, sebagaimana firman-Nya: “Maka sembahlah Dia dan teguhkanlah dirimu dalam beribadah kepada-Nya …”]