Penutup
Bab: Kesetiaan dan Berlepas Diri
Pendahuluan
...
Bab: Kesetiaan dan Berlepas Diri
Setelah kita menyelesaikan penjelasan ringkas mengenai pokok-pokok akidah Islam, kami menegaskan bahwa setiap muslim yang berpegang pada akidah ini wajib memihak para penganutnya dan memusuhi para penentangnya; ia mencintai dan mendukung orang-orang yang bertauhid dan berikhlas, serta membenci dan memusuhi orang-orang musyrik.
Hal itu termasuk ajaran Millah Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yang telah diperintahkan Allah agar kita meneladaninya. Allah Ta’ālā berfirman, “Sungguh, telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah; kami mengingkari kalian, dan telah tampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya hingga kalian beriman hanya kepada Allah semata.’” (1).
Kesetiaan dan berlepas diri ini juga bagian dari agama Muhammad ﷺ; Allah Ta’ālā berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai kawan setia; sebagian mereka adalah kawan setia bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian menjadikan mereka kawan setia, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (2). Ayat ini secara khusus melarang kesetiaan kepada Ahli Kitab. Adapun larangan memihak orang kafir secara umum, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian sebagai kawan setia.” (3).
Bahkan Allah mengharamkan seorang mukmin memihak orang-orang kafir, sekalipun mereka adalah kerabat terdekatnya; Allah Ta’ālā berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai kawan setia, jika …"