[karena ia mengetahui bahwa kematian itu pasti datang, dan apabila saatnya tiba ia tidak akan ditangguhkan; tidak ada benteng maupun pasukan yang dapat menghalanginya: “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, sekalipun kamu berada di benteng-benteng yang kokoh.” (1) “Katakanlah, ‘Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, pasti orang-orang yang telah ditetapkan untuk terbunuh akan keluar menuju tempat pembaringan mereka.’” (2). Demikianlah, ketika seorang pejuang merasakan dorongan-dorongan kuat dari keimanan kepada takdir, ia terus maju dalam jihadnya hingga kemenangan atas musuh terwujud dan kekuatan bagi Islam serta kaum muslimin tercapai.
Demikian pula, dengan keimanan kepada takdir terwujudlah produktivitas dan kelimpahan harta; sebab seorang mukmin, apabila ia mengetahui bahwa manusia tidak dapat mencelakainya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya dan tidak dapat memberinya manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya, maka ia tidak akan berpangku tangan, tidak takut kepada makhluk, dan tidak bergantung kepada mereka. Ia bertawakal kepada Allah dan menempuh jalan mencari nafkah; apabila ia mengalami kemunduran dan belum mendapatkan apa yang diinginkannya, hal itu tidak menghalanginya untuk terus berusaha, tidak memutus harapannya, dan ia tidak berkata, “Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.” Ia justru berkata, “Inilah ketetapan Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Ia pun melanjutkan jalannya dengan bertawakal kepada Allah, sambil memperbaiki kesalahannya dan mengoreksi dirinya; dengan cara itulah bangunan masyarakat tegak dan berbagai kepentingannya tertata.
Dan benarlah firman Allah: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya; sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah menetapkan kadar bagi segala sesuatu.” (3).
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam]