[Beragam metode al-Qur’an dalam menyeru kepada tauhid ulûhiyyah:
Karena tauhid rubûbiyyah telah diakui manusia menurut fitrah mereka dan pengamatan mereka terhadap alam semesta, sementara pengakuan itu saja tidak cukup untuk beriman kepada Allah dan tidak menyelamatkan pelakunya dari azab, maka seruan para rasul dipusatkan pada tauhid ulûhiyyah—terlebih lagi seruan penutup para rasul, Nabi kita Muḥammad, semoga shalawat dan salam terbaik tercurahkan kepadanya dan kepada mereka semua. Beliau menuntut manusia agar mengucapkan “Lâ ilâha illallâh”, yang mengandung kewajiban beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Karena itu, mereka pun berpaling darinya seraya berkata: “Apakah ia hendak menjadikan tuhan-tuhan itu satu Tuhan saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang mengherankan.”¹
Mereka berusaha agar Rasul meninggalkan dakwah ini dan membiarkan mereka tetap menyembah berhala-berhala, dengan menempuh segala cara—kadang dengan bujukan, kadang dengan ancaman—sedangkan beliau, shalawat dan salam tercurah kepadanya…]