Maka, tidak setiap orang yang mengakui bahwa Allah Ta‘âlâ adalah Rabb segala sesuatu dan Penciptanya otomatis beribadah hanya kepada-Nya, berdoa hanya kepada-Nya, berwala’ dan berbara’ karena-Nya, serta menaati rasul-rasul-Nya.
Mayoritas kaum musyrik pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu; namun mereka menetapkan para pemberi syafaat yang mereka sekutukan bersama-Nya dan menjadikan bagi-Nya tandingan-tandingan…
Sampai beliau—raḥimahullâh—berkata: “Karena itulah di antara pengikut mereka ada yang bersujud kepada matahari, bulan, dan bintang-bintang; berdoa kepadanya; berpuasa dan menyembelih kurban untuknya; dan mendekatkan diri kepadanya, lalu berkata: ‘Ini bukan syirik selama aku meyakini bahwa benda-benda itulah yang mengatur urusanku. Jika aku hanya menjadikannya sebab dan perantara, aku bukanlah orang musyrik.’ Padahal sudah pasti diketahui secara darurat dalam agama Islam bahwa perbuatan ini adalah syirik …” Tamat kutipan.
Aku berkata: Inilah pula yang diucapkan para penyembah kubur pada hari ini; mereka mendekatkan diri kepada kubur-kubur itu dengan berbagai macam ibadah, lalu berkata, “Ini bukan syirik, karena kami tidak meyakini bahwa kubur-kubur itu mencipta atau mengatur; kami hanya menjadikannya perantara untuk bertawassul melalui para penghuninya.”