[Dia …”.
Selanjutnya beliau berkata, “Yang dimaksud dengan tauhid bukanlah sekadar tauhid rububiyyah—yakni keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam—sebagaimana disangka oleh sebagian ahli kalam dan kaum sufi. Mereka mengira bahwa apabila hal itu telah mereka buktikan dengan dalil, berarti mereka telah mencapai puncak tauhid; bahkan ketika mereka ‘menyaksikan’ hal itu dan larut (fana) di dalamnya, mereka menyangka telah fana pada puncak tauhid.”
Sebab, seandainya seseorang mengakui semua sifat yang layak bagi Rabb Mahatinggi, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, dan mengakui bahwa Dia satu-satunya Pencipta segala sesuatu, ia belum dianggap bertauhid sampai ia bersaksi lâ ilâha illallâh semata, yakni mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya ilah yang berhak disembah dan bertekad untuk beribadah hanya kepada-Nya tanpa sekutu.
Ilah ialah yang di-ilah-i, yang disembah, yang memang berhak menerima ibadah; ilah bukan sekadar Dzat yang mampu mencipta. Bila ilah ditafsirkan sebagai ‘yang mampu mencipta’, lalu diyakini bahwa makna inilah sifat paling khas bagi ilah dan penetapan hal itu dianggap tujuan akhir tauhid—sebagaimana dilakukan sebagian ahli kalam Asyʿariyyah yang menisbatkan hal itu kepada Abul-Hasan dan para pengikutnya—maka mereka belum memahami hakikat tauhid yang Allah utus bersama Rasul-Nya ﷺ. Orang-orang musyrik Arab pun mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Pencipta segala sesuatu, namun mereka tetap musyrik. Allah Taʿâlâ berfirman, “Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka (justru) mempersekutukan-Nya.”¹ Sebagian ulama salaf berkata, “Jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ mereka akan menjawab, ‘Allah,’ sementara mereka masih menyembah selain-Nya!”
Allah Taʿâlâ juga berfirman, “Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini beserta semua yang ada di dalamnya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran?’ Katakanlah, ‘Siapakah Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang agung?’ Mereka akan menjawab, ‘(Milik) Allah.’ Katakanlah, ‘Maka tidakkah kalian bertakwa?’ Katakanlah, ‘Di tangan siapakah kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, sedangkan tidak ada yang dapat melindungi dari-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘(Milik) Allah.’ Katakanlah, ‘Kalau begitu, bagaimana kalian bisa terpesona (tersihir)?’ ”²]