Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

Maka tidak mustahil ruh dikembalikan kepada orang yang disalib, orang yang tenggelam, ataupun orang yang dibakar, sementara kita tidak menyadarinya; sebab pengembalian ruh itu adalah jenis lain yang tidak lazim. Orang yang pingsan, mabuk, atau terperanjat itu tetap hidup—ruh mereka ada bersama mereka—tetapi engkau tidak merasakan kehidupan mereka. Adapun orang yang anggota tubuhnya terpisah-pisah, sama sekali tidak sulit bagi Dia yang Mahakuasa atas segala sesuatu untuk menjadikan ruh tetap terhubung dengan bagian-bagian tersebut, sejauh atau sedekat apa pun jarak di antara bagian-bagian itu, sehingga pada bagian-bagian tersebut timbul perasaan tertentu berupa sakit atau nikmat.

Apabila Allah Ta‘ala telah menaruh rasa dan kesadaran pada benda-benda mati—melalui itu mereka bertasbih memuji Rabb-nya, batu-batu berjatuhan karena takut kepada-Nya, gunung dan pepohonan bersujud kepada-Nya, kerikil, air, dan tumbuh-tumbuhan pun bertasbih kepada-Nya—sebagaimana firman-Nya, “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka”¹; maka bila benda-benda tersebut saja memiliki rasa dan kesadaran, tentulah tubuh-tubuh yang pernah dihuni ruh dan kehidupan lebih layak memilikinya. Bahkan Allah—Mahasuci Dia—telah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya di dunia ini pengembalian yang sempurna kepada jasad yang telah ditinggalkan ruhnya, lalu ia dapat berbicara, berjalan, makan, minum, menikah, dan mempunyai keturunan: “(Yaitu) orang-orang yang keluar dari kampungnya, padahal mereka berjumlah ribuan, karena takut mati; lalu Allah berfirman kepada mereka, ‘Matilah kalian,’ kemudian Allah menghidupkan mereka kembali”²; dan kisah orang yang melewati sebuah negeri yang roboh atap-atapnya, lalu ia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah matinya?” maka Allah mematikannya selama seratus tahun kemudian membangkitkannya. (Allah berfirman), “Berapa lamakah engkau tinggal?” Ia menjawab, “Sehari atau setengah hari”³; begitu pula sekelompok Bani Israil yang berkata kepada Musa, “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara terang-terangan”⁴, maka Allah mematikan mereka kemudian menghidupkan mereka kembali setelah kematian; juga kisah para penghuni gua, dan kisah Ibrahim dengan empat ekor burung. Apabila Dia telah mengembalikan kehidupan yang sempurna kepada jasad-jasad itu setelah mereka dingin karena mati, bagaimana mungkin kuasa-Nya yang luar biasa terhalang untuk mengembalikan kepada mereka suatu kehidupan yang tidak menetap, agar dengan kehidupan itu Dia menjalankan perintah-Nya, menjadikan mereka berbicara, serta mengazab atau memberi nikmat sesuai amal mereka? Bukankah penolakan terhadap hal itu semata-mata merupakan pendustaan, sikap membangkang, dan pengingkaran belaka?!

المصلوب والغريق والمحرق ونحن لا نشعر بها؛ لأن ذلك الرد نوع آخر غير المعهود؛ فهذا المغمى عليه والمسكور والمبهوت أحياء وأرواحهم معهم ولا تشعر بحياتهم، ومن تفرقت أجزاؤه لا يمتنع على من هو على كل شيء قدير أن يجعل للروح اتصالاً بتلك الأجزاء على تباعد ما بينها وقربه، ويكون في تلك الأجزاء شعور بنوع من الألم واللذة. وإذا كان الله تعالى: قد جعل في الجمادات شعورًا وإدراكا؛ تسبح ربها به، وتسقط الحجارة من خشيته، وتسجد له الجبال والشجر، وتسبحه الحصى والمياه والنبات؛ كما قال تعالى: ﴿وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ﴾ ١، فإذا كانت هذه الأجسام فيها الإحساس والشعور؛ فالأجسام التي كانت فيها الأرواح والحياة أولى بذلك، وقد أشهد الله سبحانه عباده في هذه الدار إعادة كاملة إلى بدن قد فارقته الروح فتكلم ومشى وأكل وشرب وتزوج وولد له: ﴿الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ﴾ ٢، أو كالذي مر على قرية وهي خاوية على عروشها قال أنى يحيي هذه الله بعد موتها فأماته الله مئة عام ثم بعثه قال كم لبثت يوما أو بعض يوم٣، وكقيبل بني إسرائيل الذين قالوا لموسى: ﴿لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً﴾ ٤؛ فأماتهم الله ثم بعثهم من بعد موتهم، وكأصحاب الكهف، وقصة إبراهيم في الطيور الأربعة، فإذا أعاد الحياة التامة إلى هذه الأجساد بعد ما بردت بالموت؛ فكيف يمتنع على قدرته الباهرة أن يعيد موتها حياة ما غير مستقرة يقتضي بها أمره فيها ويستنطقها بها ويعذبها أو ينعمها بأعمالها، وهل إنكار ذلك إلا مجرد تكذيب وعناد وجحود؟!

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie