Peringatan penting.
Azab kubur dan pertanyaan dua malaikat menimpa setiap orang yang meninggal, meskipun ia tidak dikebumikan; sebab istilah itu adalah sebutan bagi azab dan kenikmatan di alam barzakh—ruang antara dunia dan akhirat—sebagaimana firman Allah, “Dan di hadapan mereka ada alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan”¹. Ia dinamakan azab kubur karena itulah keadaan yang paling umum; orang yang disalib, dibakar, ditenggelamkan, atau dimakan binatang buas dan burung tetap memperoleh bagian azab atau kenikmatan barzakh sesuai amalnya, walaupun sebab-sebab dan bentuk-bentuk nikmat serta azab itu beraneka ragam.
Pernah ada seorang di masa dahulu yang menyangka bahwa bila ia membakar jasadnya hingga menjadi abu, lalu sebagiannya ditebarkan ke laut dan sebagiannya ditebarkan ke darat pada hari yang sangat berangin, ia akan selamat darinya. Maka ia pun berwasiat kepada anak-anaknya agar melakukan hal itu. Lalu Allah memerintahkan laut untuk mengumpulkan apa yang ada padanya, dan memerintahkan darat untuk mengumpulkan apa yang ada padanya, kemudian berfirman, “Bangkitlah!” Seketika itu ia berdiri di hadapan Allah. Allah bertanya, “Apa yang mendorongmu berbuat demikian?” Ia menjawab, “Rasa takutku kepada-Mu, wahai Rabb, dan Engkau lebih mengetahui.” Maka Allah pun merahmatinya. Karena itu, azab atau kenikmatan barzakh tidak terhalang mencapai bagian-bagian tubuhnya meskipun telah berubah sedemikian rupa.
Sekalipun mayat digantung di puncak-puncak pohon yang diterpa angin kencang, jasadnya tetap akan mendapat porsi azab barzakh; dan andaikata seorang saleh dikubur di tungku yang menyala, jasadnya tetap akan memperoleh porsi kenikmatan barzakh, demikian pula ruhnya. Allah menjadikan api itu sejuk dan penuh keselamatan baginya, sedangkan udara menjadi api yang membakar dan terik bagi yang lain. Unsur-unsur dan materi alam ini tunduk kepada Rabbnya, Penciptanya, dan Pembuatnya; Dia mengarahkannya sebagaimana Dia kehendaki. Tidak ada satu pun yang Dia kehendaki yang enggan tunduk; semuanya patuh kepada perintah-Nya, dan kehendak-Nya selaras dengan kekuasaan-Nya. Maka tidak mustahil ruh dikembalikan kepada