Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

dan tauhid uluhiyyah mencakup tauhid rububiyyah; artinya, tauhid rububiyyah termasuk di dalam tauhid uluhiyyah. Karena itu, siapa saja yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya sedikit pun, pasti telah meyakini bahwa Dialah Rabb dan Penciptanya; sebagaimana perkataan Ibrahim Khalil ‘alaihissalâm: “Apakah kalian telah memperhatikan apa yang selama ini kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu? Sesungguhnya mereka semua adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu) Dia yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku; Dia yang memberi aku makan dan minum; dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkanku; Dia yang mematikan aku kemudian menghidupkanku kembali; dan Dia yang sangat kuharapkan akan mengampuniku kesalahanku pada Hari Pembalasan.”¹

Rububiyyah dan uluhiyyah terkadang disebut bersamaan; maka maknanya terpisah, sehingga yang satu menjadi bagian khusus dari yang lain. Contohnya dalam firman Allah Ta‘âlâ: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, sesembahan manusia”; maka makna Rabb di sini adalah pemilik dan pengatur makhluk, sedangkan makna Ilah adalah sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar, hanya Dia semata. Terkadang pula salah satunya disebut sendirian tanpa yang lain sehingga keduanya terkumpul dalam makna; seperti pertanyaan dua malaikat kepada mayit di dalam kubur, “Siapa Rabb-mu?”, maksudnya: siapa sesembahan sekaligus Penciptamu? Demikian pula firman-Nya: “(Orang-orang) yang diusir dari kampung-kampung mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata: Rabb kami adalah Allah”²; firman-Nya: “Katakanlah: Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah?”³; dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah”⁴. Dalam ayat-ayat ini, rububiyyah bermakna ilahiyyah.

Seruan para rasul dari kedua macam tauhid tersebut terutama adalah tauhid uluhiyyah, karena tauhid rububiyyah telah diakui oleh mayoritas umat manusia dan hanya segelintir makhluk yang mengingkarinya, itupun sebatas lahiriah. Pengakuan terhadapnya saja tidak cukup; Iblis pun mengakuinya—“Ia berkata: Rabb-ku, karena Engkau telah menyesatkanku”⁵—dan demikian pula kaum musyrik yang Rasulullah ﷺ diutus kepada mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat yang jelas, antara lain firman-Nya: “Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’”⁶ Maka siapa pun yang hanya mengakui tauhid rububiyyah saja belumlah menjadi seorang muslim, dan darah serta hartanya belum terpelihara, hingga ia juga mengakui tauhid uluhiyyah, yakni tidak beribadah kecuali kepada Allah semata.

¹ QS. Asy-Syu‘arâ’ 26: 75-82.
² QS. Al-Hajj 22: 40.
³ QS. Al-An‘âm 6: 14.
⁴ QS. Fuṣṣilat 41: 30.
⁵ QS. Al-Ḥijr 15: 39.
⁶ QS. Az-Zukhruf 43: 87.

1. Surah Asy-Syu‘ara’, ayat 75–82. 2. Surah Al-Hajj, ayat 40. 3. Surah Al-An‘am, ayat 164. 4. Surah Fussilat, ayat 30. 5. Surah Al-Hijr, ayat 39. 6. Surah Az-Zukhruf, ayat 87.
وتوحيد الألوهية متضمن لتوحيد الربوبية؛ بمعنى أن توحيد الربوبية يدخل ضمن توحيد الألوهية، فمن عبد الله وحده ولم يشرك به شيئا؛ فلا بد أن يكون قد اعتقد أنه هو ربه وخالقه؛ كما قال إبراهيم الخليل ﵊: ﴿قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الآقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إلاّ رَبَّ الْعَالَمِينَ الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ﴾ ١. والربوبية والألوهية تارة يذكران معا؛ فيفترقان في المعنى، ويكون أحدهما قسميا للآخر؛ كما قال في قوله تعالى: ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ﴾ ؛ فيكون معنى الرب هو المالك المتصرف في الخلق، ويكون معنى الإلة أنه المعبود بحق المستحق للعبادة وحده، وتارة يذكر أحدهما مفردًا عن الآخر، فيجتمعان في المعنى؛ كما في قول الملكين للميت في القبر: من ربك؟ ومعناه: من إلهك وخالقك؟ وكما في قوله تعالى: ﴿الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إلاّ أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا الله﴾ ٢، وقوله تعالى: ﴿قُلْ أَغَيْرَ الله أَبْغِي رَبّاً﴾ ٣، وقوله: ﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا الله ثُمَّ اسْتَقَامُوا﴾ ٤، فالربوبية في هذه الآيات هي الإلهية. والذي دعت إليه الرسل من النوعين هو توحيد الألوهية؛ لأن توحيد الربوبية يقر به جمهور الأمم، ولم ينكره إلا شواذ من الخليقة، أنكروه في الظاهر فقط، والإقرار به وحده لا يكفي؛ فقد أقر به إبليس ﴿قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي﴾ ٥، وأقر به المشركون الذين بعث فيهم رسول الله ﷺ، كما دلت على ذلك الآيات البينات؛ كما قال تعالى-: ﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ الله﴾ ٦؛ فمن أقر بتوحيد الربوبية فقط؛ لم يكن مسلما، ولم يحرم دمه ولا ماله، حتى يقر بتوحيد الألوهية؛ فلا يعبد إلا الله.
١ سورة الشعراء، الآيتان:٧٥ - ٨٢. ٢ سورة الحج، الآية: ٤٠. ٣ سورة الأنعام، الآية: ١٦٤. ٤ سورة فصلت، الآية: ٣٠. ٥ سورة الحجر، الآية: ٣٩. ٦ سورة الزخرف، الآية: ٨٧.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie