sebagai kontribusi—meskipun kecil—dalam bidang dakwah kepada Allah Mahasuci Dia, pada masa ketika metode dakwah yang benar telah dilupakan. Banyak da’i menaruh perhatian pada sisi-sisi remeh yang, tanpa akidah, tidak mengenyangkan dan tidak menghindarkan dari lapar, sementara mereka meninggalkan sisi akidah; padahal mereka melihat masyarakat terjerumus dalam syirik besar di seputar kuburan dan tempat ziarah, terbelit bid‘ah dan khurafat, dan menyaksikan para penyeru kesesatan telah menguasai banyak orang jahil serta awam, menggiring mereka ke jurang kebinasaan dan kesesatan, menjadikan mereka budak, mengendalikan akal dan harta mereka, serta memimpin mereka secara batil atas nama ilmu dan kewalian.
Betapa banyak da’i dewasa ini—sayangnya—tidak memperhatikan akidah dan perbaikannya. Bahkan sebagian mereka mungkin berkata, “Biarkanlah orang dengan akidahnya, jangan disinggung; mari bersatu, jangan bercerai… mari kita berpegang pada hal yang kita sepakati dan saling memaklumi pada perkara yang kita perselisihkan…,” atau ungkapan serupa yang bertentangan dengan firman Allah Ta‘ala: “Apabila kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih baik dan lebih indah akibatnya.” (QS. an-Nisā’ 4:59).
Tidak akan ada persatuan dan kekuatan kecuali dengan kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta meninggalkan segala yang bertentangan dengan keduanya, terutama dalam perkara akidah yang menjadi fondasi. Allah Ta‘ala berfirman, “Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān 3:103). Generasi akhir umat ini tak akan baik kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi pertama. Allah-lah Pemberi taufik dan Penunjuk ke jalan yang lurus.
Semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.