di dalam kain-kain kasar itu; lalu keluarlah darinya bau paling busuk yang pernah ditemukan di muka bumi. Mereka pun membawanya naik; setiap kali melewati satu kelompok malaikat, para malaikat itu bertanya, “Ruh jahat apakah ini?” Para pembawa menjawab, “Ini Fulan,” dengan menyebutnya menggunakan nama-nama terburuk yang pernah disematkan kepadanya di dunia, hingga mereka sampai ke langit terendah. Mereka meminta agar pintu dibukakan untuknya, tetapi tidak dibukakan. Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan: “Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga hingga unta dapat masuk ke lubang jarum.” Lalu Allah ﷿ berfirman, “Tulislah catatan hamba-Ku di Sijjîn, di bumi paling bawah.” Maka ruhnya dilemparkan—kemudian beliau membaca ayat: “Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit, disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”—Setelah itu ruhnya dikembalikan ke jasadnya; datanglah dua malaikat, mendudukkannya, dan bertanya, “Siapakah Tuhanmu?” Ia menjawab, “Hah… hah… aku tidak tahu.” Mereka bertanya, “Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian itu?” Ia menjawab, “Hah… hah… aku tidak tahu.” Maka terdengarlah seruan dari langit, “Hamba-Ku berdusta; hamparkanlah untuknya (permadani) dari neraka dan bukakan baginya sebuah pintu menuju neraka.” Datanglah kepadanya panas membakar dan hembusan beracun dari neraka, dan kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling bertautan. Kemudian datang seorang lelaki berwajah buruk, berpakaian busuk, berbau menyengat, seraya berkata, “Terimalah kabar yang akan menyengsarakanmu; inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Ia bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah pembawa keburukan.” Ia menjawab, “Aku adalah amal burukmu.” Maka ia berkata, “Ya Rabb, jangan tegakkan Kiamat.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Abu ‘Awanah dalam Shahih mereka, dan Ibnu Hibban.
Pensyarah Al-‘Aqîdah Ath-Thahâwiyyah berkata, “Semua Ahlus Sunnah dan ahli hadis berpegang pada konsekuensi hadis ini; ia memiliki penguat dalam kitab-kitab shahih.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ﵀ berkata, “Adapun hadis tentang dicabutnya ruh orang beriman dan dinaikkannya ke langit tempat Allah berada, maka hadis itu dikenal dengan sanad yang baik. Ucapan beliau ‘(langit) yang di dalamnya Allah’ sama seperti firman Allah Ta‘ala: ‘Apakah kalian merasa aman terhadap Dia yang di langit, bahwa Dia tidak membuat bumi menelan kalian lalu ia berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap Dia yang di langit, bahwa Dia tidak mengirimkan