[ singkatnya, tidak ada satu pun yang dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah terhadap berhala-berhala mereka melainkan mereka juga melakukannya; maka inna lillāhi wa-innā ilaihi rājiʿūn.
Di tengah kemungkaran yang menjijikkan dan kekufuran yang mengerikan ini, kita tidak mendapati seorang pun yang marah demi Allah dan cemburu membela agama yang lurus ini; tidak seorang ulama, tidak pula penuntut ilmu, tidak seorang amir, tidak menteri, dan tidak pula raja.
Telah sampai kepada kami sejumlah berita yang menegaskan tanpa keraguan bahwa banyak—bahkan kebanyakan—dari para penyembah kubur itu, apabila lawan sengketanya meminta mereka untuk bersumpah atas nama Allah, mereka berani bersumpah dusta; tetapi bila kemudian dikatakan kepada mereka, “Bersumpahlah demi syaikhmu, wali fulan yang kau yakini,” mereka tergagap, ragu-ragu, menolak, lalu mengakui kebenaran! Ini merupakan bukti paling gamblang bahwa kesyirikan mereka telah melampaui kesyirikan orang yang berkata bahwa Allah adalah “salah satu dari dua” atau “salah satu dari tiga”.
Wahai para ulama agama! Wahai para raja kaum muslimin! Musibah apa bagi Islam yang lebih berat daripada kekufuran? Bencana apa bagi agama ini yang lebih merusak daripada menyembah selain Allah? Malapetaka apa yang menimpa kaum muslimin yang sebanding dengan malapetaka ini? Kemungkaran apa yang pantas diingkari, jika pengingkaran terhadap syirik yang nyata ini tidak wajib?
“Engkau telah berseru—sekiranya yang kau panggil itu hidup, tentu ia akan mendengar—namun tiada kehidupan pada siapa yang kau panggil.
Dan seandainya engkau meniup api, niscaya ia menyala—namun engkau meniup abu.”
Selesailah perkataan asy-Syaukani رحمه الله; sesudah itu bencana malah semakin bertambah parah, bahkan melebihi apa yang beliau gambarkan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.]