[kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir; sebagaimana disebutkan dalam hadis Umar r.a. tentang pertanyaan-pertanyaan Jibril a.s. kepada Nabi ﷺ.
Kadang Al-Qur’an menyebutkan keyakinan kepada hari itu bersamaan dengan iman kepada Allah; sebagaimana firman-Nya, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari akhir” (At-Taubah: 29), dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian batalkan sedekah kalian dengan menyebut-nyebut (pemberian) dan menyakiti (perasaan), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir” (Al-Baqarah: 264).
Allah menamai hari tersebut dengan beragam sebutan untuk mengagungkan kedudukannya dan mengingatkan hamba-hamba-Nya agar mereka takut kepadanya: Ia dinamai “hari terakhir” karena datang sesudah dunia dan tidak ada hari lain setelahnya; “hari kebangkitan” karena manusia berdiri di hadapan Rabb mereka; juga disebut “Peristiwa Pasti Terjadi”, “Kebenaran Tak Terbantahkan”, “Dentuman Dahsyat”, “Goncangan”, “Ledakan Memekakkan”, “Hari yang Semakin Dekat”, “Kegentaran Besar”, “hari perhitungan”, “hari pembalasan”, “janji yang benar”, dan lain-lain.
Semua sebutan ini menunjukkan besarnya perkara hari itu, dahsyatnya kedahsyatan, serta kengerian yang akan menempa manusia; hari ketika pandangan terpaku dan hati beterbangan dari tempatnya hingga ke kerongkongan: “pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya, ibunya, bapaknya, istrinya, dan anak-anaknya; setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya sendiri” (‘Abasa: 34-37); “pada hari ketika langit seperti cairan tembaga panas, gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan, dan seorang karib tidak menanyakan karibnya, tetapi mereka saling melihat; orang yang berdosa ingin menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, keluarga dekat yang melindunginya, bahkan seluruh manusia di bumi, kemudian berharap itu menyelamatkannya” (Al-Ma‘ārij: 8-14).
Keimanan kepada hari tersebut mendorong manusia untuk beramal dan bersiap diri; Allah berfirman, “Barang siapa berharap perjumpaan dengan Rabb-nya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” (Al-Kahf: 110); dan firman-Nya, “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat; sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya dan bahwa kepada-Nyalah mereka kembali” (Al-Baqarah: 45-46).]