[…kedudukan di sisi Allah, dan kami memohon (kepada Allah) melalui kedudukan dan syafaat mereka. Mereka lupa—atau pura-pura lupa—padahal mereka membaca Al-Qur’an, bahwa inilah persis perkataan orang-orang musyrik, sebagaimana Allah ceritakan dalam firman-Nya: “Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat; mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’ Katakanlah: Apakah kalian hendak memberitahukan kepada Allah apa yang tidak Dia ketahui di langit maupun di bumi? Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.”(1)
Demikian pula firman-Nya: “Ingatlah, hanya bagi Allah agama yang murni. Adapun orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”(2)
Allah menamai mereka orang-orang kafir pendusta, padahal keyakinan mereka hanyalah bahwa para wali itu sekadar perantara antara mereka dan Allah dalam memenuhi hajat mereka—dan inilah pula yang diucapkan para penyembah kubur pada hari ini; “hati mereka serupa.”(3)
Karena itu, wajib bagi para ulama Islam untuk mengingkari syirik yang keji ini dan menjelaskannya kepada masyarakat, dan wajib pula bagi para penguasa kaum muslimin untuk merobohkan berhala-berhala tersebut serta menyucikan masjid-masjid darinya.
Banyak imam pembaharu telah mengingkari syirik ini, melarangnya, memperingatkan, dan menegur; di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, muridnya Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Muhammad bin Isma‘il ash-Shan‘ani, Syaikh Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, dan banyak imam lainnya baik dahulu maupun sekarang. Karya-karya mereka ada di tangan kita.
Tentang hal ini Imam asy-Syaukani berkata dalam Nayl al-Awthar: “Betapa banyak kerusakan yang merembes dari pembangunan dan penghiasan bangunan-bangunan kubur hingga Islam pun menangis karenanya. Di antaranya, keyakinan orang-orang jahil yang serupa—bahkan lebih parah—dengan keyakinan para penyembah berhala; mereka mengira kubur-kubur itu sanggup mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Mereka menjadikannya tujuan untuk meminta terpenuhinya kebutuhan, tempat berlindung bagi segala permohonan; mereka meminta kepadanya apa yang biasa dimohonkan para hamba kepada Rabb mereka, menempuh perjalanan jauh, mengusap-usapnya, dan meminta pertolongan darinya,]