[Dan dalam hadis panjang Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, ath-Thabarani, Abu Ya‘la dalam Musnad-nya, al-Baihaqi dalam Al-Ba‘ts, Abu Musa al-Madini dan lain-lain, ia berkata: Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami: “Sesungguhnya ketika Allah selesai menciptakan langit dan bumi, Dia menciptakan sangkakala, lalu Dia memberikannya kepada Israfil; maka ia meletakkannya di mulutnya, menatap ‘Arsy dengan pandangan terpusat, menanti kapan ia akan diperintah.
Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sangkakala itu?’ Beliau menjawab, ‘Tanduk.’ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana rupanya?’ Beliau menjawab, ‘Sangat besar; lingkar pinggirannya selebar langit dan bumi.’
Sangkakala itu akan ditiup tiga kali: tiupan pertama ialah tiupan kegentaran; tiupan kedua, tiupan kematian; dan tiupan ketiga, tiupan kebangkitan untuk Rabb alam semesta.
Allah memerintahkan Israfil pada tiupan pertama seraya berfirman, ‘Tiupkan kegentaran.’ Maka ia meniup; penduduk langit dan bumi pun gemetar, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Lalu Allah memerintahkannya memperpanjang tiupan itu, memanjangkannya tanpa henti; tentang inilah Allah Ta‘ala berfirman: ‘Mereka tidak menunggu selain satu teriakan saja, yang tidak ada jeda baginya.’¹
Allah menggerakkan gunung-gunung sehingga melintas bagaikan awan lalu menjadi fatamorgana. Bumi berguncang hebat bersama para penghuninya, laksana kapal sarat muatan di laut dihantam ombak, dan seperti pelita yang tergantung di bawah ‘Arsy yang diayun-ayun angin. Mengenai hal ini Allah berfirman: ‘Pada hari ketika guncangan pertama mengguncang, diikuti oleh guncangan kedua.’²
Bumi miring bersama manusia di atasnya; para ibu penyusu lalai terhadap anak yang disusui, para wanita hamil melahirkan kandungannya, anak-anak beruban, dan setan-setan terbang lari ketakutan hingga ke penjuru bumi. Di sana para malaikat menghadang mereka, memukul wajah-wajah mereka sehingga mereka kembali. Manusia berpaling melarikan diri, sebagian memanggil sebagian yang lain; tentang hal itu Allah Ta‘ala berfirman: ‘Hari panggil-memanggil, hari ketika kalian berpaling melarikan diri; tidak ada bagi kalian pelindung dari Allah.’³
Ketika mereka berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba bumi terbelah, terbelah dari ujung ke ujung; mereka pun menyaksikan peristiwa yang amat dahsyat. Lalu mereka menengadah ke langit; ternyata langit bagaikan logam cair, kemudian terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, dan matahari serta bulan menjadi gelap.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang-orang yang telah mati pada hari itu tidak mengetahui sedikit pun tentang semua itu.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang Allah kecualikan dalam firman-Nya: ‘kecuali siapa yang Allah kehendaki’⁴?” Beliau menjawab, “Mereka adalah para syahid; hanyasanya kegentaran itu sampai kepada…]