[Kedua, tiupan pingsan dan kebangkitan; keduanya disebutkan dalam surah az-Zumar melalui firman Allah Taʿālā:
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan siapa saja yang berada di bumi, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Kemudian ditiuplah lagi sekali, maka tiba-tiba mereka bangkit berdiri sambil menunggu.” (QS az-Zumar [39]: 68).
Adapun frasa pengecualian dalam ayat tersebut mencakup para penghuni surga dari kalangan bidadari—karena di surga tidak ada kematian—serta selain mereka. Tidak mungkin memastikan secara pasti siapa saja yang Allah kecualikan, sebab Allah menyebutkannya secara mutlak di dalam Kitab-Nya. Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda, “Manusia akan pingsan pada hari Kiamat. Aku menjadi orang pertama yang siuman; lalu aku dapati Musa memegang salah satu kaki ‘Arsy. Aku tidak tahu, apakah ia telah siuman sebelumku ataukah ia termasuk orang-orang yang Allah kecualikan.”
Tentang pingsan tersebut ada yang berpendapat ia merupakan tiupan keempat, dan ada pula yang berpendapat ia termasuk tiupan-tiupan yang sudah disebutkan di dalam Al-Qur’an …” –selesai.
As-Saffârînî berkata, “Ketahuilah bahwa tiupan sangkakala ada tiga:
-
Tiupan kepanikan. Tiupan inilah yang menimpa alam semesta ini sehingga tatanannya rusak. Ia disinggung dalam firman Allah Taʿālā: ‘Mereka tidak menanti selain satu teriakan saja yang tidak ada kesempatan untuk kembali.’ (QS Ṣâd [38]: 15) dan firman-Nya: ‘Dan pada hari sangkakala ditiup, maka terkejutlah siapa saja yang berada di langit dan siapa saja yang berada di bumi, kecuali siapa yang Allah kehendaki.’ (QS an-Naml [27]: 87). Az-Zamakhsyarî dalam Tafsir al-Kasyyâf menafsirkan pihak yang dikecualikan dalam ayat ini sebagai para malaikat yang hatinya Allah teguhkan, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Malaikat Maut; ada pula pendapat lain. Kepanikan itu sendiri timbul karena dahsyatnya kengerian tiupan tersebut …
-
Lalu ia berkata, “Tiupan kedua: tiupan pingsan, yakni saat segala sesuatu binasa.” Allah Taʿālā berfirman: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan siapa saja yang berada di bumi, kecuali siapa yang Allah kehendaki.” (QS az-Zumar [39]: 68). Pingsan di sini ditafsirkan sebagai kematian …
Beliau melanjutkan, “Sangkakala itu adalah sebuah tanduk dari cahaya; di dalamnya diletakkan ruh-ruh seluruh makhluk.” Mujâhid berkata, “Ia seperti terompet,” sebagaimana disebutkan oleh al-Bukhârî. At-Tirmiżî meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin …]