[Keluarnya binatang melata:
Allah menyebutkan peristiwa keluarnya binatang tersebut dalam firman-Nya: "Dan apabila perkataan itu telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan untuk mereka seekor binatang dari bumi yang akan berbicara kepada mereka, bahwa sungguh manusia dahulu tidak meyakini ayat-ayat Kami." (1)
Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata dalam kitab "An-Nihâyah": "Ibnu ‘Abbâs, Al-Hasan, dan Qatâdah berkata: kalimat 'tukallimuhum' berarti ia berbicara kepada mereka secara langsung. Ibnu Jarîr lebih menguatkan pendapat ini: ia akan berbicara kepada mereka seraya berkata: ‘Sungguh manusia dahulu tidak meyakini ayat-ayat Kami’; pendapat tersebut juga dinukil dari ‘Alî dan ‘Athâ’."
Ibnu Katsîr berkomentar, "Hal ini masih perlu ditinjau."
Beliau melanjutkan, "Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbâs bahwa makna 'tukallimuhum' adalah ‘melukai mereka’; yakni ia menulis di dahi orang kafir: ‘kafir’, dan di dahi orang mukmin: ‘mukmin’. Juga diriwayatkan darinya bahwa binatang itu berbicara kepada mereka sekaligus melukai mereka. Pendapat ini merangkum kedua pandangan; ia kuat, baik, dan mencakup keduanya. Allah-lah yang lebih mengetahui."
Beliau juga berkata dalam tafsirnya: "Binatang ini akan keluar pada akhir zaman, ketika manusia rusak, meninggalkan perintah Allah, dan mengganti agama yang benar. Allah akan mengeluarkan bagi mereka seekor binatang dari bumi—ada yang mengatakan dari Makkah, ada pula yang mengatakan dari tempat lain—lalu binatang itu berbicara kepada manusia."
Al-Qurthubî berkata saat menafsirkan firman Allah Ta‘âlâ: ﴿وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ﴾: "Para ulama berbeda pendapat tentang makna ﴿وَقَعَ الْقَوْلُ﴾ dan tentang dabbah. Ada yang mengatakan bahwa maksud ﴿وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ﴾ adalah: murka telah pasti menimpa mereka—ini pendapat Qatâdah. Mujâhid berkata: yakni telah pasti ketetapan terhadap mereka bahwa mereka tidak akan beriman. Ibnu ‘Umar dan Abû Sa‘îd Al-Khudrî radhiyallâhu ‘anhumâ berkata: apabila manusia tidak lagi menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, maka kemurkaan Allah pasti turun atas mereka. Abdullah bin Mas‘ûd berkata: terjadinya ‘waq‘u al-qawl’ itu ditandai dengan wafatnya para ulama, hilangnya ilmu, dan diangkatnya Al-Qur’an. Abdullah berkata: perbanyaklah membaca Al-Qur’an sebelum ia diangkat. Mereka bertanya: "Mushaf-mushaf ini akan diangkat, lalu bagaimana dengan yang ada di dada manusia?" Ia menjawab: "Al-Qur’an itu akan diambil pada malam hari, sehingga ketika pagi datang mereka mendapati diri mereka kosong darinya, bahkan mereka lupa kalimat ‘Lâ ilâha illallâh’,"]