[Dalam Shahihain, dari hadis Zainab binti Jahsy, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ tidur di sisinya, lalu bangun dengan wajah memerah seraya bersabda, “Lā ilāha illallāh, celakalah orang-orang Arab; suatu keburukan telah mendekat! Hari ini telah terbuka dari penghalang Ya’jûj dan Ma’jûj sebesar ini,” lalu beliau melingkarkan antara jari telunjuk dan ibu jarinya.
Adapun ciri fisik dan tubuh mereka, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: “Mereka mirip manusia, sebagaimana kerabat mereka dari bangsa Turk: berbibir tebal, bercampur dengan ras Mongol; mata mereka sipit, hidung mereka pesek, rambut mereka pirang kemerahan, dengan aneka rupa dan warna. Siapa yang mengklaim bahwa di antara mereka ada yang tinggi menjulang bak pohon kurma yang tinggi, atau lebih; ada pula yang kerdil laksana benda remeh; atau ada yang memiliki dua telinga—satu dijadikan selimut dan satu lagi alas—maka ia telah berbicara tanpa ilmu dan tanpa dalil.”
Tentang besarnya gangguan dan kerusakan yang mereka timbulkan di bumi serta bagaimana akhir mereka, hal itu dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abû Sa‘îd al-Khudrî; ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Penghalang Ya’jûj dan Ma’jûj akan terbuka, lalu mereka keluar menghadapi manusia, sebagaimana firman Allah Ta‘âlâ: ‘…dan mereka bergegas turun dari setiap tempat yang tinggi.’(1) Mereka menutupi manusia, sehingga manusia mengungsi ke kota-kota dan benteng-benteng mereka sambil membawa ternak mereka. Mereka meminum air bumi, sampai-sampai seseorang di antara mereka melewati sebuah sungai lalu ia meminum airnya hingga kering; orang yang datang setelahnya melewati sungai itu berkata, ‘Dulu di sini pernah ada air!’ Hingga ketika tidak tersisa seorang manusia pun kecuali yang berlindung di benteng atau kota, salah seorang mereka berkata, ‘Ini penduduk bumi, kita telah selesai dari mereka; kini tersisa penduduk langit.’”
Beliau melanjutkan, “Kemudian salah seorang dari mereka menggoyang tombaknya lalu melemparkannya ke langit; tombak itu kembali kepadanya berlumuran darah—sebagai ujian dan fitnah. Ketika mereka berada dalam keadaan demikian, Allah mengirimkan ulat di leher-leher mereka, seperti belatung belalang yang keluar di lehernya; maka mereka pun mati bergelimpangan tanpa terdengar suara sedikit pun. Lalu kaum muslimin berkata, ‘Adakah seorang yang mau mengorbankan dirinya untuk melihat apa yang telah terjadi dengan musuh ini?’ Maka seorang lelaki di antara mereka pun maju, mengharap pahala, setelah ia meneguhkan dirinya bahwa…]