atau tuntutan akal. Sebagian ulama lain mendefinisikannya sebagai kesempurnaan cinta yang disertai kesempurnaan ketundukan. Adapun Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikannya: “Ia adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang lahir.” Definisi ini lebih tepat dan lebih menyeluruh; seluruh agama tercakup di dalam ibadah. Orang yang merumuskannya sebagai cinta beserta ketundukan melakukannya karena cinta yang sempurna disertai kerendahan diri yang sempurna membawa serta ketaatan kepada yang dicintai dan kepasrahan kepadanya; seorang hamba ialah orang yang dikendalikan oleh cinta dan ketundukannya kepada yang ia cintai; maka sebesar cinta hamba kepada Rabb-nya dan kerendahannya di hadapan-Nya sebesar itu pula ketaatannya; cinta hamba kepada Rabb-nya beserta kerendahannya meniscayakan ia beribadah hanya kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Ibadah yang diperintahkan memuat makna kerendahan diri sekaligus kecintaan dan ia memiliki tiga rukun: cinta, harap, dan takut; ketiganya harus menyatu. Barang siapa bergantung pada salah satunya saja, ia belum beribadah kepada Allah secara sempurna: beribadah hanya dengan cinta adalah jalan kaum sufi, beribadah hanya dengan harap adalah jalan kaum Murji’ah, dan beribadah hanya dengan takut adalah jalan kaum Khawârij. Cinta yang terlepas dari ketundukan bukanlah ibadah; siapa yang mencintai sesuatu tetapi tidak tunduk kepadanya tidaklah menyembahnya, sebagaimana seseorang mencintai anak atau sahabatnya. Demikian pula ketundukan tanpa cinta bukanlah ibadah; seperti orang yang tunduk kepada penguasa atau penzalim agar terhindar dari kejahatannya. Karena itu, salah satunya tidak dapat menggantikan yang lain dalam ibadah kepada Allah Ta‘ala; bahkan Allah harus lebih dicintai hamba daripada segala sesuatu, dan Allah harus paling agung di sisinya melebihi apa pun.
Ibadah adalah tujuan yang dicintai dan diridhai Allah, dan untuk itulah Dia menciptakan makhluk, sebagaimana firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzâriyât: 56). Demi ibadah pula Dia mengutus seluruh rasul, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul…"