membunuh babi, dan menghapus jizyah.” Dan dalam kitab-kitab Sahih juga ditegaskan bahwa beliau akan turun di menara putih di sebelah timur Damaskus dan membunuh Dajjal. Seseorang yang ruhnya telah berpisah dari jasadnya, jasad itu tidak akan turun dari langit; bila ia dihidupkan kembali, ia akan bangkit dari kuburnya. Adapun firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, meninggikanmu kepada-Ku, dan membersihkanmu dari orang-orang kafir”[1], maka ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud bukanlah kematian; sebab seandainya kematian yang dimaksud, maka ‘Isa tidak berbeda dari kaum mukminin lainnya—Allah mencabut ruh mereka lalu mengangkatnya ke langit—sehingga tidak ada kekhususan apa pun padanya. Demikian pula firman-Nya, “dan membersihkanmu dari orang-orang kafir”. Seandainya ruhnya telah berpisah dari jasadnya, tentu jasadnya akan tetap berada di bumi sebagaimana jasad para nabi lain. Allah Ta‘ala juga berfirman: “Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan diserupakan bagi mereka; sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang hal itu benar-benar dalam keraguan; mereka tidak mempunyai pengetahuan tentangnya selain mengikuti persangkaan belaka; mereka sama sekali tidak membunuhnya secara yakin. Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya”[2]. Firman-Nya, “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya” menunjukkan bahwa yang diangkat adalah jasad dan ruhnya; sebagaimana telah sahih dalam kitab-kitab Sahih bahwa kelak ia turun dengan jasad dan ruhnya. Andaikan yang dimaksud adalah kematian, tentu Allah berfirman: “…melainkan dia telah wafat.” Karena itu sebagian ulama menafsirkan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mewafatkanmu” dengan makna “Aku mengambilmu”, yakni mengambil ruh dan jasadmu; dalam bahasa Arab dikatakan: tawaffaytu al-ḥisāba wastawfaituhu (aku menunaikan perhitungan itu sampai tuntas). Kata tawaffî sendiri tidak mengharuskan pengambilan ruh saja tanpa jasad, atau keduanya sekaligus, kecuali ada petunjuk lain. Ia bahkan kadang digunakan untuk “wafat” dalam arti tidur, sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Allah mewafatkan jiwa-jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati pada tidurnya”[3]; dan firman-Nya, “Dialah yang mewafatkan kalian pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari”[4].—selesai.
Al-Qâḍî ‘Iyâḍ berkata, “Turunnya ‘Isa a.s. dan terbunuhnya Dajjal adalah kebenaran yang sahih menurut Ahlus-Sunnah, karena hadis-hadis sahih tentang hal itu; baik akal maupun syariat tidak menolaknya, maka wajib menetapkannya. Sebagian kalangan Mu‘tazilah, Jahmiyyah, dan orang-orang yang sejalan dengan mereka mengingkari hal itu; mereka menganggap hadis-hadis tersebut tertolak oleh firman Allah Ta‘ala, ‘…dan penutup para nabi’[5], oleh sabda Nabi ﷺ, ‘Tidak ada nabi sesudahku’, serta oleh ijma‘ kaum muslimin bahwa tidak ada nabi…"