Ibnu al-Qayyim berkata: “Tanyakanlah kepada sang penolak yang ingkar: apa pendapatmu tentang sebuah kincir air yang berputar di atas sungai; seluruh bagiannya dirancang sangat rapi, susunannya kukuh, peralatannya diukur sebaik-baiknya, sehingga orang yang melihatnya tidak menemukan cela, baik pada bahannya maupun pada bentuknya. Kincir itu ditempatkan di sebuah kebun besar nan luas, berisi segala macam buah-buahan dan tanaman; ia menyirami kebun itu sesuai kebutuhannya. Di kebun itu juga ada seseorang yang merapikan ranting-rantingnya, memeliharanya dengan baik, mengurus semua keperluannya, sehingga tidak ada satu urusan pun yang terlantar. Ketika panen tiba, ia membagi hasilnya dengan pembagian terbaik menurut kebutuhan dan keperluan masing-masing, dan ia terus-menerus membaginya demikian. Apakah engkau menilai semua itu terjadi begitu saja tanpa pembuat, tanpa yang memilih, tanpa pengatur—bahwa kincir, kebun, dan seluruh keadaan itu ada secara kebetulan tanpa pelaku, penjaga, dan pengelola?! Lalu apa kata akalmu—jika engkau memang punya akal—tentang hal itu? Fatwa apa yang akan ia berikan kepadamu? Bimbingan apa yang akan ia tunjukkan? Akan tetapi, sebagai bagian dari hikmah Sang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, Dia menciptakan hati-hati yang buta, tak memiliki pandangan; mereka tidak melihat tanda-tanda yang jelas ini kecuali sebagaimana pandangan hewan ternak, sebagaimana Dia juga menciptakan mata yang tak dapat melihat.” Selesai perkataannya.