[karena mereka memiliki tujuan terselubung selain itu; dan mereka berada pada puncak kedustaan dan kefajiran dalam ucapan maupun tindakan mereka—sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Maukah kalian Aku beritakan kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa.” (QS. asy-Syu‘arâ’ 26: 221-222).
Berbeda halnya dengan para nabi ‘alaihimus-shalâtu was-salâm; mereka berada pada puncak kejujuran, petunjuk, istiqamah, dan keadilan dalam setiap apa yang mereka ucapkan, perintahkan, serta larang, disertai dukungan mukjizat di luar kebiasaan, dalil-dalil yang jelas, dan bukti-bukti yang cemerlang. Selawat dan salam Allah atas mereka senantiasa tercurah selama langit dan bumi masih ada.
Manusia tidak membutuhkan lagi diutusnya nabi setelah Muhammad ﷺ, karena syariat beliau telah sempurna dan mencukupi seluruh kebutuhan manusia.
Apalagi yang kiranya menuntut diutusnya nabi baru setelah Muhammad ﷺ?!
Bila ada yang berkata, “Umat ini telah rusak, sehingga upaya memperbaikinya memerlukan diutusnya nabi baru,”
kami menjawab, “Pernahkah ada seorang nabi yang diutus hanya untuk memperbaiki (umat), sehingga pada masa kini perlu diutus lagi hanya untuk tujuan itu?!”
Seorang nabi tidak diutus kecuali untuk menerima wahyu, dan kebutuhan kepada wahyu itu hanya ada: untuk menyampaikan risalah baru, menyempurnakan risalah sebelumnya, atau membersihkannya dari noda penyelewengan dan perubahan. Setelah seluruh kebutuhan itu dipenuhi melalui terpeliharanya Al-Qur’an dan Sunah Muhammad ﷺ serta penyempurnaan agama lewat tangan beliau ﷺ, maka tidak tersisa lagi kebutuhan kepada para nabi; yang diperlukan hanyalah para pembaharu.”
Selesai, dengan sedikit penyesuaian, dari kitab “Ar-Radd ‘alâ al-Qâdiyâniyyah”.
Allah pun telah mengumumkan penutup kenabian dan kerasulan dengan kenabian Muhammad ﷺ dalam firman-Nya, “Mâ kâna …”]