[Kadang mereka berkata, “Alam semesta ini terwujud sebagai hasil dari ‘alamiah’ (tabi‘ah) yang tak lain adalah hakikat benda-benda—tumbuhan, hewan, dan benda mati; makhluk-makhluk inilah, menurut mereka, ‘alamiah’ itu sendiri, dan ia menciptakan dirinya sendiri.
Atau mereka mengatakan bahwa ‘alamiah’ hanyalah sifat-sifat dan karakteristik benda, seperti panas, dingin, lembap, kering, kasar, serta potensi-potensi berupa gerak dan diam, tumbuh, kawin, dan beranak-pinak. Sifat-sifat dan potensi inilah, menurut mereka, yang disebut ‘alamiah’ dan yang menumbuhkan segala sesuatu.
Kedua pendapat itu batil dilihat dari dua sudut tersebut. Sebab menurut sudut pandang pertama, ‘alamiah’ sekaligus menjadi pencipta dan tercipta: bumi menciptakan bumi, langit menciptakan langit, dan seterusnya—sesuatu yang mustahil. Jika saja keluarnya penciptaan dari ‘alamiah’ dalam arti pertama ini sudah mustahil, maka kemustahilannya dalam arti kedua lebih berat lagi; karena apabila zat suatu benda saja tidak sanggup menciptakan dirinya, maka sifatnya tentu lebih lemah lagi—keberadaan sifat bergantung pada objek yang disifati. Bagaimana mungkin ia menciptakan objek itu sementara ia sendiri membutuhkan keberadaannya? Bila dengan dalil akal telah terbukti bahwa yang disifati itu bersifat baru, maka sifatnya pasti lebih-lebih lagi. Selain itu, ‘alamiah’ tidak memiliki kesadaran; ia hanyalah alat semata. Maka bagaimana mungkin darinya lahir perbuatan-perbuatan agung yang mencapai puncak keindahan dan kesempurnaan, puncak hikmah, dan keterpaduan yang luar biasa?
Di kalangan ateis itu ada pula yang berkata bahwa makhluk-makhluk ini muncul karena kebetulan; maksudnya, berkumpulnya atom dan partikel secara kebetulan menimbulkan kehidupan tanpa pengaturan Pencipta yang mengatur dan tanpa hikmah.
Ini pun pendapat batil yang ditolak oleh akal dan fitrah. Sebab apabila engkau menatap alam semesta yang teratur ini—dengan gugusan benda langit, bumi, dan langitnya, serta perjalanan makhluk di dalamnya dengan ketelitian dan keteraturan yang menakjubkan—niscaya engkau akan tahu bahwa ia tidak mungkin muncul kecuali dari Pencipta Yang Mahabijaksana.]