untuk menaatinya tanpa perintah Allah, dan tidak menghalalkan darah, harta, dan tempat tinggal mereka tanpa izin Allah; maka siapa saja yang mengaku bahwa Allah memerintahkannya demikian padahal Allah tidak memerintahkannya, ia adalah pendusta, pembuat-buat kebohongan lagi zalim: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, atau berkata, ‘Telah diwahyukan kepadaku,’ padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya.” Di samping ia zalim dan pemalsu, ia termasuk orang yang paling berambisi meraih kedudukan di bumi dan menebar kerusakan, bahkan lebih buruk daripada raja-raja tiran yang zalim; sebab raja-raja tiran memerangi manusia agar mereka menaatinya, namun tidak pernah berkata, “Kami adalah utusan Allah kepada kalian; siapa menaati kami masuk surga dan siapa mendurhakai kami masuk neraka.” Bahkan Fir‘aun dan yang semisalnya pun tidak sampai berbuat demikian. Tidak ada yang berani mengklaim hal itu kecuali seorang nabi yang benar atau penipu yang mengaku-aku kenabian, seperti Musailamah, al-Aswad, dan semisal keduanya.
Maka apabila telah diketahui bahwa ia adalah seorang nabi, wajib diyakini bahwa segala yang ia kabarkan dari sisi Allah adalah benar; dan apabila ia adalah Rasul Allah, maka ketaatan kepadanya diwajibkan dalam setiap perintahnya—sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan supaya ia ditaati dengan izin Allah.” Jika ia mengabarkan bahwa ia adalah Rasul Allah bagi Ahlul Kitab dan bahwa mereka wajib menaatinya, maka berita itu pasti benar.
Siapa pun yang mengakui bahwa ia adalah Rasul Allah tetapi menolak bahwa ia diutus kepada Ahlul Kitab, ia serupa dengan orang yang berkata: Musa memang seorang rasul, tetapi tidak wajib baginya memasuki tanah Syam, tidak wajib pula mengeluarkan Bani Israil dari Mesir, dan Allah tidak memerintahkannya demikian; Allah juga tidak memerintahkannya tentang Sabat, tidak menurunkan Taurat kepadanya, dan tidak berbicara dengannya di bukit Thur. Demikian pula dengan orang yang berkata: Isa memang Rasul Allah, tetapi ia tidak diutus kepada Bani Israil, tidak wajib bagi Bani Israil menaatinya, dan ia telah menzalimi orang-orang Yahudi—dan berbagai ucapan serupa yang termasuk ucapan paling kufur.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yang hendak membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dan yang berkata, ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir kepada sebagian (yang lain),’ serta ingin mengambil jalan di antara itu—merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya, dan Kami telah menyiapkan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.”