Dan maksudnya ialah bahwa agama para nabi—semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada mereka—pada hakikatnya satu: memurnikan ibadah hanya kepada Allah serta melarang syirik dan kerusakan. Syariat mereka memang beragam sesuai keadaan dan kebutuhan, sampai rangkaian itu ditutup dengan Muhammad ﷺ, yang risalahnya meliputi seluruh makhluk dan berlangsung hingga akhir dunia; ia tidak akan diubah, diganti, ataupun dihapus, dan ia cocok serta membawa maslahat bagi setiap zaman dan tempat. Tidak ada nabi sesudah beliau ﷺ sampai akhir masa. Beliau memerintahkan apa yang juga diperintahkan para rasul sebelumnya: beriman dan memurnikan ibadah kepada Allah melalui hukum-hukum yang disyariatkannya. Beliau membenarkan saudara-saudara beliau para rasul, dan para rasul itu telah memberi kabar gembira tentang kedatangan beliau—terutama rasul yang paling dekat masanya, yaitu Al-Masih ‘Isa putra Maryam عليه السلام—ketika ia berkata kepada kaumnya: “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan apa yang ada di hadapku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad.”¹
Dalam kitab-kitab terdahulu terdapat penjelasan yang sangat jelas tentang sifat-sifat dan keistimewaan rasul ini, meskipun sebagian Yahudi dan Nasrani mengingkarinya karena dengki dan kesombongan; sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri; namun segolongan di antara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.”²
Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya; dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.