Allah Ta‘ala telah mengabarkan kepada kita tentang tobatnya Adam, Nuh, dan para nabi sesudah keduanya hingga penutup para rasul, Muhammad ﷺ. Ayat terakhir—atau di antara ayat-ayat terakhir—yang turun kepadanya ialah firman-Nya: “Apabila pertolongan Allah dan kemenangan telah datang dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan-Nya; sungguh Dia Maha Penerima tobat.” (1)
Kemudian penulis menyebutkan banyak nash tentang istigfar Nabi ﷺ, lalu berkata: “Dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah dalam bab ini sangat banyak dan saling menguatkan; atsar dari para sahabat, tabi‘in, dan ulama kaum muslimin pun melimpah. Akan tetapi para penentang menakwilkannya dengan jenis takwil kaum Jahmiyah dan Batiniah, sebagaimana pernah dilakukan sebagian orang dalam masalah ini. Bagi siapa yang menelaah, takwil-takwil mereka jelas rusak; termasuk bentuk pengalihan lafaz dari tempatnya. Contohnya, penafsiran mereka terhadap firman-Nya: ‘Agar Allah mengampunimu atas dosa yang telah lewat dan yang akan datang’ (2) dengan makna: ‘dosa yang telah lewat ialah dosa Adam, sedangkan yang akan datang ialah dosa umatnya’. Penafsiran ini diketahui batil.”
Beliau juga berkata: “Mayoritas yang membolehkan terjadinya dosa-dosa kecil pada para nabi menegaskan bahwa mereka terpelihara dari menetap di atasnya. Dengan demikian, mereka justru mensifati para nabi dengan kesempurnaan, karena amalan itu tergantung pada penutupnya. Adapun pendapat lawan akan berujung pada kesimpulan bahwa Nabi tidak bertobat kepada Allah …” —selesai kutipan.
Pokok bahasan ini dapat diringkas sebagai berikut: kemaksuman para nabi—shalawat dan salam atas mereka—terdiri dari hal-hal yang disepakati dari awal hingga akhir, dan hal-hal yang diperselisihkan dari awal maupun akhir. Rinciannya:
- Para ulama sepakat bahwa mereka ma‘shûm dalam apa pun yang mereka kabarkan dari Allah Ta‘ala dan dalam menyampaikan risalah-Nya; karena kemaksuman inilah tujuan risalah dan kenabian tercapai.
- Mereka berselisih tentang kemaksuman para nabi dari dosa; sebagian ulama berpendapat bahwa mereka terpelihara darinya