Al-Irshad ila Sahih al-Itiqad wa al-Radd ala Ahl al-Shirk wa al-IlhadShalih al-Fauzan

[– Dan firman-Nya tentang Sulaiman: “Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh siapa pun sesudahku; sungguh, Engkaulah Maha Pemberi.” (1)

Adapun Yusuf ash-Shiddiq, Allah sama sekali tidak menyebut suatu dosa pun darinya; oleh karena itu Allah pun tidak menyebut baginya permohonan ampun yang sepadan dengan dosa. Dia hanya berfirman: “Demikianlah agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian; sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang disucikan.” (2) Allah mengabarkan bahwa Dia telah memalingkan darinya keburukan dan kekejian, dan itu menunjukkan bahwa Yusuf tidak pernah melakukan keburukan atau kekejian. Adapun firman-Nya: “Dan sungguh, wanita itu telah berkehendak kepadanya dan ia pun berkehendak kepadanya seandainya ia tidak melihat bukti Tuhannya,” (3) maka kata “berkehendak” (hammun) adalah nama jenis yang di bawahnya terdapat dua macam, sebagaimana dikatakan Imam Ahmad: “Ham itu dua macam: ham sekadar lintasan, dan ham yang berupa tekad bulat.” Telah sahih dalam Shahih dari Nabi ﷺ: “Sesungguhnya seorang hamba, apabila ia berniat melakukan suatu kejahatan, maka belum ditulis ia berdosa; jika ia meninggalkannya, dituliskan baginya satu kebaikan; jika ia melakukannya, dituliskan baginya satu dosa saja; dan jika ia meninggalkannya bukan karena Allah, maka tidak dituliskan baginya kebaikan dan tidak pula dosa.” Yusuf ﷺ meniatkan suatu ham yang kemudian ia tinggalkan karena Allah; karena itulah Allah memalingkan darinya keburukan dan kekejian berkat keikhlasannya. Hal itu hanya terjadi ketika sebab pendorong dosa—yaitu ham—sudah ada, lalu dihadang oleh keikhlasan yang membuat hati berpaling dari dosa karena Allah. Maka Yusuf عليه السلام tidak melakukan apa pun selain kebaikan yang dengannya ia diberi pahala. Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka digoda bisikan dari setan, mereka segera ingat, maka ketika itu juga mereka menjadi orang-orang yang melihat.” (4)

Sampai beliau berkata: “Dengan ini tampak jawaban terhadap syubhat orang yang mengatakan bahwa Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali yang sudah ma‘sûm sebelum kenabian—sebagaimana dikatakan sekelompok Rafidhah dan selain mereka—dan juga orang yang berkata bahwa Dia tidak mengutus nabi kecuali yang sudah beriman sebelum kenabian. Mereka membayangkan bahwa dosa membuat derajat turun meskipun pelakunya telah bertobat; inilah sumber kekeliruan mereka. Siapa yang menyangka bahwa seorang pelaku dosa, walaupun telah bertobat dengan tobat nâshûh, tetap dianggap kurang, maka ia keliru dengan kekeliruan besar; karena celaan dan hukuman yang menimpa para pelaku dosa sama sekali tidak menimpa orang yang bertobat darinya. Apabila ia menyegerakan tobat, tidak ada apa pun yang menimpanya; tetapi bila ia menunda tobat, boleh jadi akan menimpanya sesuatu di antara dosa-dosa …]

1. Surah Shad, ayat 35. 2. Surah Yusuf, ayat 42. 3. Surah Yusuf, ayat 24. 4. Surah Al-A’raf, ayat 201.
وقوله تعالى عن سليمان: ﴿قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكاً لا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾ ١. وأما يوسف الصديق؛ فلم يذكر الله عنه ذنبا؛ فلهذا لم يذكر الله عنه ما يناسب الذنب من الاستغفار، بل قال: ﴿كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ﴾ ٢؛ فأخبر أنه صرف عنه السوء والفحشاء، وهذا يدل على أنه لم يصدر منه سوء ولا فحشاء، وأما قوله: ﴿وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ﴾ ٣؛ فالهم اسم جنس تحته نوعان؛ كما قال الإمام أحمد: "الهم نوعان: همُّ خطرات، وهمُّ إصرار"، وقد ثبت في (الصحيح) عن النبي ﷺ: "إن العبد إذا هم بسيئة؛ لم تكتب عليه، وإذا تركها؛ كتبت له حسنة، وإن عملها؛ كتبت له سيئة واحدة، وإن تركها من غير أن يتركها لله؛ لم تكتب له حسنة، ولا تكتب عليه سيئة"، ويوسف ﷺ همّ همّا تركه لله، ولذلك صرف الله عنه السوء والفحشاء لإخلاصه، وذلك إنما يكون إذا قام المقتضى للذنب - وهو الهم - وعارضه الإخلاص الموجب لانصارف القلب عن الذنب لله؛ فيوسف ﵇ لم يصدر منه إلا حسنة يثاب عليها؛ قال تعالى: ﴿إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ﴾ ٤. إلى أن قال: "وبهذا يظهر جواب شبهة من يقول: إن الله لا يبعث نبيا إلا من كان معصوما قبل النبوة؛ كما يقول ذلك طائفة من الرافضة وغيرهم، وكذلك من قال: إنه لا يبعث نبيا إلا من كان مؤمنا قبل النبوة؛ فإن هؤلاء توهموا أن الذنوب تكون خفضا وإن تاب التائب منها، وهذا منشأ غلطهم، فمن ظن أن صاحب الذنوب مع التوبة النصوح يكون ناقصا؛ فهو غالط غلطا عظيما؛ فإن الذم والعقاب الذي يلحق أهل الذنوب لا يلحق التائب منها شيء أصلاً، لكن إن قدم التوبة؛ لم يلحقه شيء، وإن أخر التوبة؛ فقد يلحقه ما بين الذنوب
١ سورة ص، الآية: ٣٥. ٢ سورة يوسف، الآية: ٤٢. ٣ سورة يوسف، الآية: ٢٤. ٤ سورة الأعراف، الآية: ٢٠١.

Perusahaan

  • Tentang
  • Harga
  • Mengapa Menerjemahkan?

Dukungan

  • Hubungi kami
  • Laporkan bug
  • Dukung kami
  • Donasi
  • AI combat arena

Ikuti kami

© 2026 Kutub. Hak cipta dilindungi.
Syarat dan ketentuanKebijakan privasiCookie